Archive for the ‘MY LIFE’ Category
Lelaki tanpa Matahari (Tamat)
Sejak itu, aku berusaha melupakan Amelia. Tapi, cinta yang pernah kudapatkan darinya telah membuatku hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuat aku selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi bumerang, membelenggu proses kreativitasku dan membuat kualitas diriku mandul. Cinta yang membuat aku lupa bahwa aku masih punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan diri. Baca entri selengkapnya »
Lelaki tanpa Matahari (16)
Tanpa terasa matahari telah beranjak ke peraduan malam. Sementara azan magrib baru saja usai. Sesaat kemudian kejora hinggap di langit yang telah berwarna gelap. Aku masih saja terpaku menatap laut. Pikiranku mengembara, melintas hari-hari indah yang pernah kulalui bersama Amelia. Ya, di tempat ini aku sering menikmati matahari tenggelam bersama Amelia. Baca entri selengkapnya »
Lelaki tanpa Matahari (15)
Gerimis jatuh satu-satu seperti salju. Tapi langit tidak tertutup mendung. Matahari yang baru beranjak dari peraduannya juga nampak utuh. Sementara “kuda mesin” yang kutunggangi meluncur mulus ke arah barat. Tujuanku hanya satu, cepat sampai di Bireuen untuk menjemput kembali matahariku. Baca entri selengkapnya »
Lelaki tanpa Matahari (14)
Ketika mataku terkuak, kutemukan tubuhku terbaring di pinggir jalan. Astaghfirullaahal’adziim… Sorot mataku mengitari beberapa siswa calon polisi yang berdiri di sekelilingku. Ya, sepeda motor yang kukendarai ternyata terjatuh persis di depan gedung Sekolah Polisi Negara, di puncak Seulawah, Aceh Besar. Baca entri selengkapnya »
Lelaki tanpa Matahari (13)
“Gimana? Langsung berangkat?” tanyaku seraya menuntunnya ke sepeda motor.
Amelia mengangguk. Kustarter sepeda motor dan kami tancap gas. Membelakangi matahari yang mulai memancarkan terik yang menyengat tubuh. Baca entri selengkapnya »
Lelaki tanpa Matahari (12)
Setelah beberapa kali aku menekan redial, akhirnya ada juga yang mengangkat telepon itu. Dari ujung telepon seluler terdengar suara serak Amelia, seperti usai menguras tangis. “Maafkan adek, bang. Tadi teleponnya memang dipinjam Kak Wati.” Baca entri selengkapnya »
Lelaki tapa Matahari (11)
Kurasa malam belum begitu larut. Setidaknya, jarum jam belum menajukkan pukul 00.01 dini hari ketika aku terjaga dari tidur yang diselimuti kegelisahan. Dari balik jendela aku menyaksikan kunang-kunang meliuk di atas setangkai kembang. Malam melempar pesan lewat jemarinya yang dingin. Dan, tiba-tiba aku ingat pesan singkat dari Amelia yang mampir ke handphoneku tadi sore. Kuraih HP dan segera meneleponnya. Baca entri selengkapnya »
Lelaki tanpa Matahari (10)
Kubiarkan Wati tidur di kamar. Sedangkan aku memilih tidur di sofa. Namun, sepanjang malam aku terus gelisah. Pikiranku mengembara, ingin menembus dinding kamar, tempat Wati tertidur pulas. Bayangan gadis itu terus mengusik alam sadarku. Akh, kucoba mengusir pikiran itu jauh-jauh. Kubenamkan wajahku ke sofa. Aku berharap, cepat tertidur dan terbuai mimpi indah. Baca entri selengkapnya »
Lelaki tanpa Matahari (9)
Aku berjalan gontai kembali ke kamarku, setelah mengantar Amelia hingga ke depan mess, tempat sepeda motornya di parkir. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang akan mengancam kehidupanku. Naluriku mengatakan, keluarga Amelia tidak mungkin menerimaku lagi. Lebih-lebih Wati, wanita yang pernah terperangkap ranjau cinta yang kutebarkan empat tahun lalu. Yang kemudian kuhempas setelah sebulan penuh menemani hari-hariku selama di negeri jiran. Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (8)
Karena ada Amelia di kamarku, seusai mandi aku langsung menggantikan pakaian di kamar mandi. Begitu kembali ke kamar, kutemukan wajah bidadariku tidak seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya, dia selalu membersihkan kamar tidurku sambil menunggu aku selesai mandi dan mengganti pakaian. Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (7)
Hingga azan isya yang terdengar sayup dari mesjid di seberang sawah, hujan masih saja mengguyur lebat. Aku dan Amelia telah hanyut jauh dalam dunia masing-masing. Dia meringkuk dalam balutan pelukanku. Matanya masih menerawang, menerobos jalanan sunyi. Aku tahu apa yang ia lamunkan, apalagi setelah berkali-kali mendengar helaan nafasnya. Ya, seperti juga yang sedang aku pikirkan. Ingin kebersamaan ini bisa berlangsung selamanya. Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (6)
Kurasa semburan udara penyejuk ruangan itu dipaskan pada posisi 16 derajad celsius. Namun, butiran keringat kulihat tetap saja mengalir di jidat Raja-01 yang lumayan licin. Ohya, Raja-01 itu panggilan kami untuk pemimpin redaksi. Maklum, Harian Pararaja memang dikelola oleh sejumlah raja dari beragam komunitas berbeda. Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (5)
“Adek gak mau ikut campur dengan urusan abang di kantor. Tapi adek kan selalu mendukung segala sesuatu yang terbaik menurut abang.” Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (4)
Perjalanan cintaku dan Amelia berjalan tanpa hambatan yang berarti. Setiap saat terjalin komunikasi, meski sekedar sebuah pesan singkat. Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (3)
Namun, setelah beberapa episode kehidupan kulalui. Aku mendadak berharap kegelapan malam cepat berlalu. Aku tiba-tiba ingin selamanya menikmati matahari pagi. Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (2)
Bulan pertama di Jakarta. Hari-hari paling sulit dalam hidupku. Aku terlunta-lunta dari satu penerbitan ke penerbitan lainnya. Aku harus mencari pekerjaan. Baca entri selengkapnya »
Lelaki Tanpa Matahari (1)
Aku selalu tersesat di belantara sunyi. Sebuah dunia yang memberiku kenikmatan sekadar mengungkapkan kegelisahan. Aku mencintai malam. Baca entri selengkapnya »
