<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lelaki tanpa Matahari</title>
	<atom:link href="http://ariadi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ariadi.wordpress.com</link>
	<description>Ini adalah Kisah hidupku....</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Jan 2009 10:50:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ariadi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8d22ad3016d562edae3951104bcae7e7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lelaki tanpa Matahari</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Teror Aceh</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2008/09/17/teror-aceh/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2008/09/17/teror-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 19:57:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Di Lhokseumawe dan Langsa, kantor Partai Aceh (PA) dibakar. Cara dan waktu pembakaran nyaris sama, baik terhadap kantor Dewan Pimpinan Gampong (DPG) PA di Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, maupun kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PA Langsa Timur.
Kejadian serupa juga dialami kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PA Kabupaten Bireuen, subuh kemarin. Bahkan, teror [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=193&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di Lhokseumawe dan Langsa, kantor Partai Aceh (PA) dibakar. Cara dan waktu pembakaran nyaris sama, baik terhadap kantor Dewan Pimpinan Gampong (DPG) PA di Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, maupun kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PA Langsa Timur.<span id="more-193"></span><br />
Kejadian serupa juga dialami kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PA Kabupaten Bireuen, subuh kemarin. Bahkan, teror terhadap kantor PA yang berada di Jalan Banda Aceh-Medan di Desa Meunasah Blang, Kota Juang itu lebih ganas lagi. Kantor tersebut digranat orang tak dikenal (OTK), Rabu (17/9) sekira pukul 04.30 WIB.<br />
Rentetan teror tersebut, menimbulkan kerusakan atau tidak, merupakan upaya-upaya menodai proses perdamaian yang sedang berlangsung di Aceh. Kalau hal ini dibiarkan, dikhawatirkan akan tumbuh dan mengakar kembali bibit-bibit kekacauan baru di Aceh. Tentunya sesuatu yang tidak kita inginkan.<br />
Dalam konteks ini, lagi-lagi masyarakat Aceh terbelah suaranya. Ada yang menduga teror tersebut dilakukan oleh orang-orang PA sendiri sebagai sebuah trik untuk memperoleh simpati publik. Ada pula yang menduga aksi itu sebagai bentuk ketidaksetujuan sebagian mantan kombatan terhadap pembentukan PA. Karena selama ini disebut-sebut ada kelompok mantan GAM yang tidak sependapat dengan teman-temannya yang akan terjun ke ranah politik praktis.<br />
Di sisi lain, ada juga yang menduga bahwa kelompok penebar teror itu didalangi para pejabat pemerintah pusat, sebagaimana pernyataan Juru Bicara DPP Partai Aceh Adnan Beuransyah.<br />
Menurut dia, beberapa waktu lalu pejabat dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI pernah menyatakan bahwa jika Partai Aceh menang pada Pemilu 2009 di Aceh, maka Aceh akan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)<br />
“Pernyataan tersebut memperkuat indikasi bahwa kelompok yang selama ini meneror Partai Aceh adalah bentukan pejabat Pemerintah Pusat di Jakarta,” kata Adnan di hadapan sejumlah wartawan, kemarin.<br />
Terlepas dari berbagai persepsi tersebut, tentu kita tidak menginginkan kekacauan atau teror semacam itu terulang lagi di Aceh. Apalagi kekacauan menyangkut persiapan Pemilu 2009 yang akan berimbas langsung pada kehancuran masa depan Aceh.<br />
Karena itu, semua pihak harus menahan diri demi keberlangsungan perdamaian di Aceh. Kepada aparat kepolisian, tentunya harus mengusut tuntas rentetan aksi teror itu sehingga kekhawatiran akan lahirnya konflik baru di Aceh bisa diantisipasi bersama, sedini mungkin.<br />
Selain itu, keberhasilan Pemilu 2009 di Aceh sangat membutuhkan kerjasama dari semua elemen masyarakat. Kondisi lingkungan yang aman dan kondusif merupakan variabel terpenting yang juga turut menentukan keberhasilan tersebut. Karenanya, masyarakat juga harus menjaga lingkungan dari sasaran teror orang-orang tak bertanggung jawab itu.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/193/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/193/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=193&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2008/09/17/teror-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ringgit (Belum) Berhenti Mengalir</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2008/07/25/ringgit-belum-berhenti-mengalir/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2008/07/25/ringgit-belum-berhenti-mengalir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 01:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Nasib 24 ribu warga Aceh di Malaysia terjawab sudah. Mereka dipastikan masih bisa bertahan hingga 2010 di negeri jiran tersebut. Kabar yang menyejukkan itu diputuskan dalam pertemuan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dengan Perdana Menteri Malaysia, Dato Sri Moh Najib Bin Tun Haji Abdul Razak di Kuala Lumpur, kemarin.
Kepastian itu bukan saja melegakan mereka yang sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=189&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nasib 24 ribu warga Aceh di Malaysia terjawab sudah. Mereka dipastikan masih bisa bertahan hingga 2010 di negeri jiran tersebut. Kabar yang menyejukkan itu diputuskan dalam pertemuan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dengan Perdana Menteri Malaysia, Dato Sri Moh Najib Bin Tun Haji Abdul Razak di Kuala Lumpur, kemarin.<span id="more-189"></span><br />
Kepastian itu bukan saja melegakan mereka yang sedang berjibaku di negeri orang, tetapi juga melegakan ratusan ribu jiwa penduduk Aceh yang menggantungkan hidupnya dari anggota keluarganya di negeri jiran itu.<br />
Dengan keberhasilan lobi Pemerintah Aceh itu, otomatis ringgit yang selama ini mengalir ke Aceh masih terus berlanjut. Karena, intinya, mereka yang datang ke negara itu—baik legal maupun ilegal—bukan untuk mencari suaka politik, tapi mereka mencari pekerjaan. Kesulitan mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri merupakan alasan utama puluhan ribu warga Aceh hengkang ke negeri yang ‘sangat menjanjikan’ itu.<br />
Meski begitu, tidak sedikit pula warga Aceh yang semula ingin mendulang ringgit untuk mengangkat ekonomi keluarganya dari keterpurukan, justru menjadi &#8216;bintang&#8217; di negeri orang karena terjerat berbagai persoalan. Bahkan ada beberapa warga Aceh yang harus berhadapan dengan ‘tiang gantungan’ di sana.<br />
Pada Mei tahun lalu, ada delapan warga Aceh yang divonis mati oleh pengadilan di negeri itu. Saat itu dilaporkan, ada 267 warga Aceh yang terlibat kasus narkotika jenis ganja (dadah) di semenanjung Malaysia. Mereka dijerat dengan hukum negara Malaysia Seksyen (pasal) 39 B (2) Akta Dadah Berbahaya Tahun 1952.<br />
Kembali ke izin tinggal warga Aceh pemegang ‘tsunami card’ di Malaysia yang diperpanjang hingga 2010. Hal ini patut kita syukuri, karena untuk menampung 24.000 warganya kembali bukan persoalan yang mudah bagi Aceh. Kalau kita mau jujur, Pemerintah Aceh tak akan mampu menyiapkan lapangan kerja bagi warga sebanyak itu. Di samping itu, mengembalikan 24 ribu orang juga butuh kerja keras dan biaya yang tidak sedikit.<br />
Perpanjangan itu telah melegakan mereka di sana yang beberapa bulan terakhir diresahkan oleh berbagai kemungkinan, karena izin tinggal pemegang tsunami card telah beberapa kali mengalami perpanjangan. Termasuk kemungkinan terburuk; dideportasi sekaligus!<br />
Kalau itu terjadi, mereka akan ‘makan’ buah simalakamah; pulang kampung dengan konsekuensi harus menjadi pengangguran atau bertahan di negeri jiran dengan risiko akan meu pet-pet dengan aparat keamanan setempat.<br />
Sementara Pemerintah Malaysia akan terus memburu para pendatang tanpa izin (PATI) yang tinggal dan bekerja di negara itu. Akta Imigrasi Malaysia tahun 1959/1963 yang ditetapkan pada 1 Agustus 2002, menjelaskan, pendatang yang tidak mempunyai dokumen perjalanan atau ‘pas kerja’ atau lawatan sosial atau mempunyai dokumen perjalanan tapi tidak ada pas, dianggap PATI. Bagi pelanggar akan dikenakan denda RM 10.000 atau dipenjara serta disebat enam kali.<br />
Bukan mustahil pula, karena tidak mungkin bekerja secara baik-baik dengan status yang tidak jelas, akan bertambah pula warga Aceh yang terlibat ‘bisnis haram’ di Malaysia.<br />
Tapi, sekali lagi, kita patut bersyukur. Di tengah situasi politik Malaysia yang tidak menentu, izin tinggal bagi sekitar 24.000 warga Aceh di sana kembali diperpanjang untuk ketiga kalinya. Dengan demikian, ringgit belum berhenti mengalir ke Aceh. Ratusan ribu penduduk Aceh yang menggantungkan hidupnya pada percikan ringgit yang dikirim sanak keluarganya dari negeri tetangga itu masih terus berlanjut.(*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/189/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/189/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=189&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2008/07/25/ringgit-belum-berhenti-mengalir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketergantungan Listrik</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2008/07/25/ketergantungan-listrik/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2008/07/25/ketergantungan-listrik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 01:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Hidup kita sudah terlanjur mempunyai unsur ketergantungan pada listrik. Kelangkaan pasokan listrik atau terputusnya suplai arus listrik dapat melumpuhkan seluruh sendi kehidupan.
Bagi Aceh, ketergantungan pasokan listrik melalui jaringan interkoneksi Sumatera Utara (Sumut) hingga kini belum bisa ditanggulangi. Kalaupun ada upaya Pemerintah Aceh memutuskan ketergantungan tersebut dengan membangun pembangkit listrik bersumber dari bahan yang dapat diperbaharui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=184&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hidup kita sudah terlanjur mempunyai unsur ketergantungan pada listrik. Kelangkaan pasokan listrik atau terputusnya suplai arus listrik dapat melumpuhkan seluruh sendi kehidupan.<span id="more-184"></span><br />
Bagi Aceh, ketergantungan pasokan listrik melalui jaringan interkoneksi Sumatera Utara (Sumut) hingga kini belum bisa ditanggulangi. Kalaupun ada upaya Pemerintah Aceh memutuskan ketergantungan tersebut dengan membangun pembangkit listrik bersumber dari bahan yang dapat diperbaharui seperti air, panas bumi, angin, bahan bakar nabati dan lainnya, hal itu masih sebatas retorika.<br />
Ketergantungan Aceh pada pasokan listrik sebesar 170 kilo watt dari interkoneksi Pusat Penyaluran Pengatur Beban Sumatera (P3BS), hingga kini masih berlanjut. Akibatnya, begitu jaringan itu terganggu, sepanjang pantai Timur-Utara Aceh menjadi gelap-gulita.<br />
Kondisi ini sangat ironis jika ditilik dari sumber energi yang melimpah di perut bumi Aceh. Sejatinya—kalau bisa dimanfaatkan—tidak hanya untuk mencukupi energi listrik di wilayah Aceh, bahkan bisa mencukupi seluruh pulau Sumatera.<br />
Data sumber daya energi Aceh dilaporkan, dalam perut bumi Aceh terdapat kandungan energi panas bumi (geothermal) dan air (hydropower) cukup besar. Cadangan energi panas bumi di Gunung Seulawah dan Krueng Raya, Aceh Besar, masing-masing sebesar 250 mega watt (MW), Gunung Jaboi di Pulau Weh 74,14 MW, dan Gayo Lasten, Aceh Tengah, sebesar 589,42 MW.<br />
Sementara sumber energi hydropower terdapat di sejumlah sungai di Aceh. Di antaranya di Krueng Aceh (5,20 MW), Krueng Teunom (41,10 MW), Krueng Leumih (7,70 MW), Krueng Meureudu (62,60 MW), Krueng Jambo Aye (471,90 MW), Krueng Ramasan (101,80 MW). Krueng Peureulak (20,80 MW), Kreung Tampur-Tamiang (126,90 MW), Krueng Biadin (98,60 MW), Krueng Peusangan (88,90 MW), Danau Laut Tawar/Bidin (73,30 MW), Danau Laut Tawar/Jambo Air (41,90 MW), Krueng Pantan Dedalu (7,90 MW), Lawe Alas (268,10 MW), dan Lawe Mamas (65,80 MW).<br />
Kalau ditilik lebih jauh lagi, Aceh juga memiliki potensi batu bara yang cukup besar. Di Kecamatan Meurebo dan Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, diperkirakan memiliki batu bara sebesar 571 juta ton dan cadangan hipotesis batu bara lebih kurang 1,7 miliar ton. Ditambah lagi cadangan minyak bumi di Aceh sebesar 94,473 million stock tank barrel (MSTB) di sepanjang pantai utara dan timur—daratan seluas 8.225,19 km2 dan di lepas pantai Selat Malaka 38.122,68 km2—dan memiliki cadangan gas bumi sebesar 10,3787 billion standar cubic feet (BSCF).<br />
Berdasarkan paparan di atas, sungguh mustahil Aceh yang kaya sumber energi hingga kini masih mengharapkan pasokan listrik dari Sumatera Utara. Tapi, itulah realitanya. Sebuah kenyataan yang menyeret Aceh pada persoalan klasik; krisis energi listrik.<br />
Kita berharap, para pengambil kebijakan di Aceh dapat memanfaatkan sumber daya energi yang melimpah itu untuk kepentingan Aceh. Bek peugah-peugah mantong, tapi masyarakat Aceh butuh realisasi dari berbagai program Pemerintah Aceh dalam mengatasi krisis energi listrik. Paling tidak, generasi Aceh mendatang tidak lagi menerima ‘warisan’ serba ketergantungan pada daerah lain.(*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/184/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/184/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=184&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2008/07/25/ketergantungan-listrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senjata Ilegal</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/senjata-ilegal/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/senjata-ilegal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Sep 2007 20:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/senjata-ilegal/</guid>
		<description><![CDATA[Senjata api, dalam sebuah negara hanya boleh disandang aparat keamanan, khususnya tentara dan polisi. Itu pun masih dalam seleksi (internal) yang—mestinya—ketat. Ada kalangan sipil yang diberi izin menyimpan senjata, dengan kriteria dan syarat tertentu yang amat ketat. Negara, melalui aparat kepolisian pula yang menentukan.
Namun negara dalam suasana perang, atau pemberontakan, tentu sulit mengatur penggunaan senjata. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=182&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Senjata api, dalam sebuah negara hanya boleh disandang aparat keamanan, khususnya tentara dan polisi. Itu pun masih dalam seleksi (internal) yang—mestinya—ketat. Ada kalangan sipil yang diberi izin menyimpan senjata, dengan kriteria dan syarat tertentu yang amat ketat. Negara, melalui aparat kepolisian pula yang menentukan.<span id="more-182"></span></p>
<p>Namun negara dalam suasana perang, atau pemberontakan, tentu sulit mengatur penggunaan senjata. Karena &#8220;kelegalan&#8221; negara tercemar oleh aksi penentangan, maka status legal senjata tidak bisa ditentukan oleh satu pihak. Para penentang sebuah negara, merasa amat legal memiliki senjata bagi perjuangannya membentuk sebuah komunitas, bahkan kalau mungkin negara baru.</p>
<p>Di Aceh, setidaknya hingga saat ini sejak 15 Agustus 2005, penentangan seperti itu, oleh Gerakan Aceh Merdeka berakhir sudah. Tercapainya kesepakatan damai melalui MoU Helsinki membuat negara kembali memiliki wibawa, dan diatur bersama secara adil dan bijaksana. Hukum negara kembali bisa ditegakkan secara tegas, adil dan benar. Benarkah? Itu masih sebuah pertanyaan lain dari kita.</p>
<p>Namun setidaknya saat ini, para pengatur negara, pengatur pemerintahan telah menentukan sikap bahwa senjata yang tidak dimiliki oleh aparatur negara yang sah disebut senjata ilegal. Karena para pihak sudah menyatakan bersatu membela negara yang sama, membela dan membangun daerah yang sama.</p>
<p>Kekacauan akibat masih beredarnya &#8220;senjata ilegal&#8221; di lapangan bisa membuat wibawa pemerintah goyah. Masyarakat resah. Hukum rimba meruyak di mana mana. Oleh karenanya, wajar saja pemerintah lalu mengeluarkan maklumat, agar pemilik senjata ilegal menyerahkan &#8220;sandangan&#8221;nya itu secara ikhlas.</p>
<p>&#8220;Sandangan&#8221; yang selama ini bisa digunakan untuk membela diri, membanggakan diri hingga memperkaya diri. Terlepas dari efektifitas maklumat itu, kita berharap sejak semula senjata senjata &#8220;ilegal&#8221; itu diganti cangkul. Mungkin memang berat bagi mereka yang telah terbiasa dengan senjata. Seperti beratnya mereka yang legal membanggakan senjata mereka, bahkan kadang bisa membuat rakyat juga takut padanya.</p>
<p>Karena itu pemerintah, juga wajib memberi maklumat pada aparaturnya, baik sipil maupun aparat keamanan, agar menggunakan &#8220;senjata&#8221; mereka semata mata untuk menjaga rakyat, untuk wibawa negara dan tegaknya hukum, bukan sebaliknya. Para PNS bersenjatakan kekuasaan pelayanan jangan arogan dan harus menjaga wibawa dengan bersikap adil kepada seluruh lapisan rakyat dalam melayani mereka. Wartawan tidak arogan dengan senjata penanya, rendah hati dan bersikap adil dan jujur dalam setiap pemberitaannya.</p>
<p>Aparatur hukum, jaksa polisi dan hakim bersikap adil  dalam melayani hingga menjerat sebuah vonis hukuman bagi seluruh warga negara tanpa pilih kasih apalagi bisa disuap. Tentara menjaga wibawa negara dengan senjatanya, tidak boleh menggunakan senjata untuk menakuti orang lain, apalagi rakyatnya sendiri. Semua kekuatan penopang negara tidak boleh menekan dan arogan terhadap rakyat, agar tidak ada alasan para pengguna senjata ilegal membanggakan senjatanya untuk &#8220;kebenaran&#8221; versinya sendiri (yang belum tentu salah bila aparatur negara arogan, tidak menegakkan hukum dan bersikap adil dalam segala hal).</p>
<p>Kita berharap semua ini akan tercapai, sesuai semakin majunya proses analisa pikir dan wawasan para pemimpin hingga rakyat negeri ini. Kita harap semua lapisan dan elemen menampilkan profesionalismenya dalam mengelola administrasi negara, menjaga negara, mengisi pembangunan sebuah negara. Hukum sebagai tiang utama penopang negara harus benar benar ditegakkan secara jujur, adil, dan tegas kepada semua lapisan. Jangan ada tekanan dan kepura puraan, bila tidak ingin orang selemah ulat sekalipun bisa menggunakan dayanya untuk melawan, suatu saat.</p>
<p>Pengalaman amat berarti di Aceh ketika legalitas negara terganggu hendaknya tidak terulang lagi. Kita setuju sikap tegas bila maklumat pengumpulan senjata ilegal ini tidak dipenuhi mereka mereka yang bandel. Kita juga berharap, mereka mereka yang legal sekaligus bandel dalam sistem negara juga ditindak secara adil. Mereka yang arogan, yang menindas, yang menggerogoti negara dengan rakus harus dijatuhi hukuman setimpal, tidak sekedar diberi maklumat lagi.</p>
<p>Kita tidak mau melihat ketidakadilan baru, ketika mereka yang bandel karena kesalahan masa lalu—ketidakadilan dan kesetaraan kedudukan serta pemberian kesempatan pendidikan sebagai rakyat negara—aditindak dengan keras, sementara mereka yang bandel dalam sistem tanpa malu malu tidak diberi sanksi apa apa.</p>
<p>Ini memang butuh kekuatan, misalnya moralitas pemimpin yang kuat, hingga pemimpin yang bisa dipanut, bijak dan adil. Berbuat sesuatu sesuai perkataan, dan tidak menekan, arogan, atau bersikap penuh kepura-puraan pada rakyatnya sendiri. Kini kita hidup bukan di zaman serba tertutup dan penuh kebodohan. Mari kita bangun bersama negeri ini dengan penegakan hukum yang adil, kejujuran, ketegasan, kedisiplinan dan etos kerja tinggi.(*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/182/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/182/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=182&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/senjata-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duh, Teganya (Pejabat) BRR</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/duh-teganya-pejabat-brr/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/duh-teganya-pejabat-brr/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Sep 2007 19:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/duh-teganya-pejabat-brr/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah biaya komunikasi (yang biasa biasa saja), kini giliran angka perjalanan dinas di kantor Pusat BRR Aceh-Nias di Banda Aceh yang menelorkan angka mencengangkan. Selama delapan bulan, BRR menghabiskan Rp11,5 M untuk perjalanan dinas, termasuk carter pesawat komersial. 
Sejak awal BRR (bersama orang orangnya) memang mencengangkan, ya besar dana yang dikelola, ya gajinya. Termasuk agak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=179&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setelah biaya komunikasi (yang biasa biasa saja), kini giliran angka perjalanan dinas di kantor Pusat BRR Aceh-Nias di Banda Aceh yang menelorkan angka mencengangkan. Selama delapan bulan, BRR menghabiskan Rp11,5 M untuk perjalanan dinas, termasuk carter pesawat komersial. <span id="more-179"></span></p>
<p>Sejak awal BRR (bersama orang orangnya) memang mencengangkan, ya besar dana yang dikelola, ya gajinya. Termasuk agak mencengangkan jawaban jubir BRR yang menyebut biaya itu sesuai tugas BRR yang “cukup berat” di lapangan, sama seperti jawaban terhadap biaya komunikasi.</p>
<p>Apa tugas BRR yang amat berat, membangun rumah?Membuat seminar, konvensi?Membangun fasilitas jalan?Atau berat membagi bagi duit yang segitu banyak?! Kita tidak tahu mengapa Kepala Bapel BRR Kuntoro bisa “terlibat” sejauh ini, hingga nyaris melupakan nurani asalnya. Apa sebegitu beratnya tipu dan kepalsuan yang dilihat, sehingga terjerembat atau bahkan ikut berpura pura dengan kondisi yang ada. Atau tidak bisa lepas sejak awal hingga akhir oleh “tekanan” lingkungan, tekanan kepentingan, hingga kompromi  politik? Entahlah. Semoga tidak karena kurangnya rasa malu, kepekaan dan rasa tanggung jawab saja.</p>
<p>Ke mana perjalanan dinas dilakukan?Kata berita, ke Takengon, ke Lhokseumawe, ke Medan, atau bahkan ke Jakarta? Sementara “perjalanan dinas” ke pusat bencana tsunami seperti Alu Naga boleh diwakilkan staf kecil, sehingga digebuk masyarakat yang kesal dengan kesewenangan dan sikap acuh BRR?</p>
<p>Apa bedanya dengan pengelola proyek masa lalu? Semua proyek gampang menggerus uang, pembangunan rumah, riol, overlay jalan hot mix. Betapa mudahnya mencairkan puluhan miliar dana, dengan administrasi yang amat lengkap dan sempurna. Rakyat “dipuaskan” oleh overlay jalan raya puluhan senti tebalnya, di suatu ruas, tanpa pernah melihat pemilik atau pengawas proyek, apalagi petugas BRR. Pekerja juga mengaku mendapatkan dari tangan ke tiga, ke empat, namun jelas itu proyek BRR.</p>
<p>Kurang orang? Wahai… proyek itu masih di kota Banda Aceh, yang tidak perlu perjalanan dinas. Mengapa kalau ke Jakarta tidak pernah kurang orang? Kita berharap, yang berat berat mereka tidak melengos atau melepaskan tanggungjawab pada Satker. Karena sesuai jawaban: Banyak proyek yang harus diawasi. Mana orang (BRR)-nya? Apa untuk mengawasi kawasan tsunami di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya hingga Aceh Barat sampai miliaran rupiah menghabiskan biaya perjalanan dinas setiap bulan? Bila alasan koordinasi ke Jakarta juga kurang bisa diterima, karena kinerja itu mirip pejabat masa lalu, yang digaji rendah oleh negara. BRR mestinya tidak seperti itu lagi. Toh biaya komunikasi juga besar bukan?</p>
<p>Entahlah (warga) Olele, Alu Naga hingga Aceh Jaya mungkin telah membuat kecewa Kuntoro. Sejak awal, semangat “kantor Olele”  yang bersahaja dan penuh idealisme, seolah musnah ditelan waktu. Atau, sejak awal ini hanya sebuah ke pura puraan saja? Duh, teganya Anda pak, menganggap semua sudah kenyang dan tutup mulut.</p>
<p>Menganggap semua rakus dan terlibat dalam “foya foya” berjamaah harta sumbangan warga dunia ini? Sayangnya tidak. Kita masih temukan ada yang teraniaya, ada yang terlupakan akibat kurang bertanggungjawabnya pengelolaan dana tsunami ini. Anda telah profesional dalam mendapatkan gaji dan mengeluarkan uang. Namun tidak ada yang berubah dari sikap, tanggungjawab dan idealisme atas sebuah pekerjaan mulia yang seharusnya menarik simpati ini.</p>
<p>Kita melihat, semua masih bergaya lama, palsu dan tidak membawa perubahan apapun. Tidak bagi sistem mengelola dana, jauh dari semangat pembaruan dan profesionalisme, mengkhianati idealisme  sehingga runtuhnya kepercayaan rakyat. Walau Anda “orang orang baru” yang konon penuh idealisme. Mungkin ini biasa bagi Anda, khususnya pejabat BRR yang merasa telah “berbuat banyak”. Berbuat banyak dengan berfoya foya, bukan ke Olele atau Alue Naga, tapi perjalanan dinas yang mestinya lebih menarik dilintasi, tanpa harus mendengar keluh kesah korban tsunami melulu. Duh, teganya!(*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/179/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/179/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=179&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2007/09/21/duh-teganya-pejabat-brr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki tanpa Matahari (Tamat)</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/28/lelaki-tanpa-matahari-tamat/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/28/lelaki-tanpa-matahari-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 20:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY LIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/2007/06/28/lelaki-tanpa-matahari-tamat/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak itu, aku berusaha melupakan Amelia. Tapi, cinta yang pernah kudapatkan darinya telah membuatku hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuat aku selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi bumerang, membelenggu proses kreativitasku dan membuat kualitas diriku mandul. Cinta yang membuat aku lupa bahwa aku masih punya banyak kesempatan untuk menguras segala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=170&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sejak itu, aku berusaha melupakan Amelia. Tapi, cinta yang pernah kudapatkan darinya telah membuatku hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuat aku selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi bumerang, membelenggu proses kreativitasku dan membuat kualitas diriku mandul. Cinta yang membuat aku lupa bahwa aku masih punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan diri.<span id="more-170"></span></p>
<p>Ya, aku benar-benar tak berdaya. Meski berada di antara teman-teman yang sedang menyiapkan penerbitan koran baru, aku tidak bisa memberikan ide-ide bagus. Padahal, di antara teman-teman lain, sebenarnya aku paling banyak pengalaman dalam merintis penerbitan sebuah media cetak. Kurasakan tubuhku ada bersama mereka, tapi jiwaku masih saja mengembara di masa lalu. Ah, alangkah tololnya aku!</p>
<p>Namun, setelah enam bulan berlalu, tiba-tiba aku tergugah dari tidur panjang dalam dekapan masa lalu. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tetap meneruskan perjalanan ke depan. Aku harus berani meninggalkan masa lalu demi tujuan baru. Toh gerbang menuju ke arah itu sudah terpampang di hadapanku. Karena, koran baru yang kami rintis bersama telah hadir setiap pagi menjumpai pembacanya. Dan, aku dituntut bekerja secara totalitas untuk kemajuan media itu.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Lima tahun kemudian. Di sebuah warung kopi, di tepi Krueng Peudada, suatu senja. Aku duduk menyendiri menghadap ke sungai, memandang matahari yang pelan-pelan rebah ke barat. Sengaja aku memilih bangku menghadap ke barat, persis lima tahun lalu, saat aku dan Amelia menunggu matahari tenggelam sambil menikmati goreng pisang dan teh manis di warung itu.</p>
<p>Sekarang, wanita yang pernah menjadi kekasihku itu ingin menemuiku di tempat ini. Dia memintaku menunggunya sore hari, setelah perayaan 17 Agustus, usai. Seperti juga usai peringatan 17 Agustus lima tahun lalu, yang menjadi sore terakhir kami bersama ke tempat ini.</p>
<p>“Sudah lama menungguku?”</p>
<p>Aku menoleh. Kudapati wanita itu tersenyum di belakangku. Masih seperti dulu. Tatapan matanya masih memantik api. Ada kerinduan yang tersirat di balik sorot matanya itu.</p>
<p>Aku menggeleng. “Baru aja,” jawabku seraya menjabat tangannya. Jemarinya tetap lembut. Sama seperti ketika kami masih bersama, lima tahun lalu.</p>
<p>Aku tidak tahu siapa yang memulai, tiba-tiba saja kami saling berpegangan tangan, menelusuri tanggul Krueng Peudada hingga ke ujung kuala.</p>
<p>“Maafkan aku telah mengganggu waktumu. Aku hanya ingin menemuimu, meski sesaat saja. Aku tahu, kamu pasti sibuk sekali sekarang,” desahnya di telingaku. Kurasakan nafasnya masih seperti dulu, masih menebarkan aroma kembang.</p>
<p>“Tidak apa-apa. Aku senang kita bertemu kembali, meskipun suasananya tidak seperti dulu. Oh ya, bagaimana kabar suamimu?”</p>
<p>Mendadak dia tersentak. Kulihat rona wajahnya berubah seketika. Lama dia terdiam. Amelia hanya menatapku dengan pandangan kosong.</p>
<p>“Memangnya ada apa dengan suamimu?” desakku seraya melingkari kedua tanganku di bahunya.</p>
<p>“Kami sama-sama tidak saling mencintai. Kebersamaan kami hanya karena terpaksa. Ya, perkawinan kami memang sebuah keterpaksaan. Jadi, tidak pernah ada kecocokan. ”</p>
<p>“Lalu&#8230;”</p>
<p>“Dia menceraikan aku dan menikahi pacarnya semasa SMA. Ya, aku sudah setahun menjanda. Tapi, tak apa lah, itu sudah takdirku. Isteri kamu sendiri bagaimana? Kalau dia tahu tentang pertemuan kita ini, sampaikan saja maafku. Karena, aku memang tidak bermaksud merebutmu lagi darinya,” ujar Amelia sambil menatapku tak berkedip.</p>
<p>“Semoga saja isteriku tidak tahu, soalnya dia pencemburu sekali. Tapi aku sangat mencintainya. Sayangnya, dia juga telah berlalu dari sisiku. Ya, dia merenggang nyawa di tengah perjuangannya melahirkan anak kami yang pertama&#8230;”</p>
<p>Ada kegetiran yang mendadak menderaku ketika mengingat kembali saat-saat terakhir menjelang maut menjemput istriku dan buah hati kami yang dikandungnya. Tapi, kucoba membenamkan perasaan itu dalam-dalam. Karena, aku sadar, sesuatu yang sudah pergi tak mungkin kembali lagi. Semoga dia dan janin di perutnya mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.</p>
<p>“Jadi, sekarang&#8230;” desah Amelia kemudian.</p>
<p>“Sama sepertimu, sudah hampir dua tahun aku kembali hidup sendiri.”</p>
<p>Kemudian aku menggenggam tangan Amelia erat-erat. Seketika terbesit keinginan untuk menggenggam tangan itu selamanya. Dan, ingin merangkai kembali sesuatu yang telah terabaikan di masa lalu.</p>
<p>“Tadinya. aku mau menemuimu di sini hanya sekedar ingin mengingat kembali masa lalu kita. Karena menurutku, sesuatu yang indah meskipun tidak berakhir dengan indah, tetap menjadi kenangan yang indah. Tapi sekarang&#8230;”</p>
<p>“Tapi sekarang apa?”</p>
<p>“Aku ingin, kita mengakhirinya dengan indah!”</p>
<p>Sementara, di ujung laut yang tak bertepi, matahari telah ditelan kegelapan malam. Namun, bagiku semuanya malah menjadi terang. Aku telah menggapai kembali matahariku yang hilang. Menuju mahligai indah yang pernah berserakan.<strong>(Selesai)</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/170/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/170/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=170&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/28/lelaki-tanpa-matahari-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki tanpa Matahari (16)</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/15/lelaki-tanpa-matahari-16/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/15/lelaki-tanpa-matahari-16/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jun 2007 20:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY LIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/2007/06/15/lelaki-tanpa-matahari-16/</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa terasa matahari telah beranjak ke peraduan malam. Sementara azan magrib baru saja usai. Sesaat kemudian kejora hinggap di langit yang telah berwarna gelap. Aku masih saja terpaku menatap laut. Pikiranku mengembara, melintas hari-hari indah yang pernah kulalui bersama Amelia. Ya, di tempat ini aku sering menikmati matahari tenggelam bersama Amelia.
Tapi, kini aku sendiri. Hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=169&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tanpa terasa matahari telah beranjak ke peraduan malam. Sementara azan magrib baru saja usai. Sesaat kemudian kejora hinggap di langit yang telah berwarna gelap. Aku masih saja terpaku menatap laut. Pikiranku mengembara, melintas hari-hari indah yang pernah kulalui bersama Amelia. Ya, di tempat ini aku sering menikmati matahari tenggelam bersama Amelia.<span id="more-169"></span></p>
<p>Tapi, kini aku sendiri. Hanya berteman desau angin, gelombang lautan, dan camar yang sesekali menukik di depanku. Kemudian aku tiduran di atas pasir, di bawah bulan yang menguning di atas laut. Tengah malam aku baru pulang ke rumah ibu. Kepulanganku yang mendadak, membuat ibu dan dua adik perempuanku terkejut.</p>
<p>“Dari tadi abang kok diam aja, wajah abang juga pucat, abang sakit?” tanya adikku yang masih kuliah di sebuah PTS di kampungku, setelah melihat kondisiku yang tidak seperti biasanya.</p>
<p>Aku menggeleng, “gak apa-apa, abang cuma lagi kecapean.” Kemudian aku hanya ngobrol seadanya dengan ibu dan kepada kedua adikku, sekedar basa-basi untuk menyembunyikan kepiluan yang tengah kurasakan. Setelah itu, aku pamit dan masuk kamar.</p>
<p>Kurebahkan tubuhku yang lunglai di atas tempat tidur. Mataku menerawang, lalu sorot mataku tertumpu pada celah jendela yang memuncratkan cahaya purnama. Aku kembali bangkit dan membuka jendela kamar lebar-lebar. Kulihat bulan yang berisi penuh mengambang di atas pucuk kelapa. Kadang-kadang bergoyang seperti ditiup angin. Bulan itu hanya sendiri, persis seperti diriku yang tengah meratap kesendirian. Aku terus memandang bulan, hingga cahayanya berganti semburan surya pagi.</p>
<p>Sorenya aku baru ke luar rumah. Tujuanku hanya satu, mendatangi tempat-tempat yang pernah kusinggahi bersama Amelia. Lalu larut dalam kenangan masa lalu yang tak mungkin terjemput lagi, terutama ketika aku sudah berada di tepi laut yang banyak menyimpan kenangan itu.</p>
<p>Setiap mengingat Amelia, aku selalu meneteskan air mata, kemudian kucoba menghapusnya dengan ujung kemeja. Air mata itu tetap menetes dan aku terus menghapusnya. Berkali-kali sampai kering.</p>
<p>Kebiasaan itu terus berlangsung hingga berhari-hari. Seperti sekarang, sudah sore ketujuh aku sendirian menatap matahari tenggelam di tepi laut. Kali ini aku benar-benar ingin menumpahkan segala kegalauan yang tengah menderaku. Ingin rasanya aku terjun ke laut dan tenggelam, lalu mati. Atau menggantungkan leherku di tiang perahu nelayan, selanjutnya ditemukan nelayan dengan lidah yang menjulur. Dengan demikian penderitaanku akan berakhir.</p>
<p>Akh, tidak. Aku tidak boleh mati seperti itu. Lagian, meski tanpa Amelia, aku tidak sendiri. Aku masih punya teman-teman yang membutuhkan buah pikiranku untuk bersama-sama menerbitkan koran baru. Mereka mungkin sekarang sedang menunggu kehadiranku di Banda Aceh. Lalu, sama-sama melahirkan media yang bermartabat di bumi serambi Mekkah. Sehingga, bisa saling membagi ilmu dan pengalaman dengan sesama anak negeri yang sedang sekarat ini.</p>
<p>Terlebih, aku juga masih punya Tuhan. Amelia telah begitu banyak mengajariku kebaikan. Mengajariku untuk selalu dekat dengan-Nya, dan berpaling jauh dari larangan-Nya. Mendadak aku teringat kisah Qais dan Laila. Ya, perjalananku kini menyerupai langkah Qais bin Mu&#8217;adz bin Syamah bin Nasir yang dikenal sebagai Majnun, sedangkan Amelia seumpama Laila, sang perantara.</p>
<p>Aku ingat betul kisah romantis sekaligus transenden itu. Cinta dua sejoli dari bani yang berbeda. Lalu terlibat asmara yang menggelora, hingga membuahkan kesadaran seorang manusia untuk bersimpuh pada Khaliknya. Laila yang jelita hanya sebagai antara, untuk mengantar Qais menuju Sang Pencipta.</p>
<p>Ketika cinta yang menggelora itu mendapat hambatan keluarga Laila, maka Qais jadi tergila-gila. Seperti juga aku, ya gila. Bahkan, aku sendiri pernah mendengar pembicaraan beberapa nelayan yang menyebutkan aku orang gila, setelah beberapa sore mereka menemukan aku sendirian terpaku menatap laut.</p>
<p>Aku memang telah gila seperti Qais. Bahkan, aku ingin menjadi sosok Majnun yang sesungguhnya. Ingin terkubur cinta. Bukan lagi cinta pada kecantikan Amelia, tetapi jauh melampaui batas-batas perasaan asmara.</p>
<p>Biarlah matahariku tenggelam. Aku yakin, suatu saat aku akan memperoleh perpaduan cahaya matahari dan rembulan yang sempurna. Karena, akan kuabaikan semua cinta dunia. Lalu, aku memasuki dunia spiritualitas yang indah. Mahabbah! Cinta pada Allah. <strong><em>(Bersambung)</em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/169/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/169/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=169&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/15/lelaki-tanpa-matahari-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki tanpa Matahari (15)</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/10/lelaki-tanpa-matahari-15/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/10/lelaki-tanpa-matahari-15/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jun 2007 07:53:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY LIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/2007/06/10/lelaki-tanpa-matahari-15/</guid>
		<description><![CDATA[Gerimis jatuh satu-satu seperti salju. Tapi langit tidak tertutup mendung. Matahari yang baru beranjak dari peraduannya juga nampak utuh. Sementara “kuda mesin” yang kutunggangi meluncur mulus ke arah barat. Tujuanku hanya satu, cepat sampai di Bireuen untuk menjemput kembali matahariku.
Tidak seperti biasa, sepanjang perjalanan aku tidak singgah di tempat mana pun, meski sekedar untuk minum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=168&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gerimis jatuh satu-satu seperti salju. Tapi langit tidak tertutup mendung. Matahari yang baru beranjak dari peraduannya juga nampak utuh. Sementara “kuda mesin” yang kutunggangi meluncur mulus ke arah barat. Tujuanku hanya satu, cepat sampai di Bireuen untuk menjemput kembali matahariku.<span id="more-168"></span></p>
<p>Tidak seperti biasa, sepanjang perjalanan aku tidak singgah di tempat mana pun, meski sekedar untuk minum seperti perjalanan sebelumnya. Aku hanya ingin cepat bertemu Amelia dan merampasnya dari orang-orang yang menghalangi kebersamaan kami.</p>
<p>Tengah hari. Gerimis yang sempat mengiringi perjalananku telah berlalu. Matahari di atas kota Bireuen kembali menyengat. Aku membelokkan setir sepeda motorku ke utara kota Bireuen. Menelusuri jalanan bekas hantaman tsunami yang belum selesai diperbaiki.</p>
<p>Tiba di depan rumah Amelia, aku cepat-cepat memarkirkan sepeda motorku. Begitu menginjakkan kaki di halaman rumah panggung itu, seorang perempuan yang pernah kukenal empat tahun lalu, melongokkan wajahnya lewat jendela.</p>
<p>“Wati&#8230;” desahku membatin.</p>
<p>Sesaat kemudian perempuan itu sudah berdiri di mulut pintu. “Ngapain kamu ke sini lagi?!” tanyanya setengah menghardik ketika aku sudah berdiri persis di depannya.</p>
<p>“Tolong mengerti kami, Wat. Aku bukan lagi Ari yang Wati kenal empat tahun lalu. Aku mencintai adikmu, sungguh Wat&#8230;”</p>
<p>“Tidak. Kami takkan pernah mengizinkan Amelia untuk menemuimu lagi. Sekarang tinggalkan tempat ini, atau aku berteriak maling biar orang-orang kampung menghajarmu,” ancam Wati.</p>
<p>Aku terdiam. Amelia dan ibunya muncul lewat pintu samping. Aku sempat menangkap gurat kepedihan di wajah matahariku yang kuning pucat. Sesaat Amelia terpaku menatapku. Sorot matanya mengisyaratkan kepedihan. Sepertinya dia ingin berlari ke pangkuanku. Namun, sulit bagi matahariku untuk melepaskan diri dari dekapan ibunya.</p>
<p>“Bang, lupakanlah adek. Anggap aja kita tidak pernah bertemu&#8230;” ujar Amelia tersekat serak. Lalu tangisnya tumpah. Suara isakannya terdengar semakin keras, hingga mengundang perhatian orang-orang yang lewat di jalanan depan rumahnya.</p>
<p>Aku hanya bisa terpaku. Aku yakin, apa yang dikatakan Amelia itu bukanlah keluar dari hati kecilnya. Bukan, aku paham betul, dia juga sangat berat untuk berpisah denganku. Tapi aku tak kuasa berbuat apa-apa. Lebih-lebih setelah Amelia dibopong kembali oleh ibunya ke dalam rumah.</p>
<p>“Tolong jangan lagi ganggu adikku dan segera angkat kaki dari rumah kami,” ujar Wati seraya memegang daun pintu dan hendak menutupnya.</p>
<p>Namun, aku cepat melompat anak tangga rumah panggung itu. Mendorong pintu rumah sambil berusaha memegang lengan Wati. “Oke. Aku bersumpah tidak akan menjumpai dan menghubungi Amelia lagi. Tapi&#8230;”</p>
<p>“Tapi apa?” sergahnya cepat. Dia menepis tanganku yang berusaha menggenggam lengannya.</p>
<p>“Biarkan Amelia tetap meneruskan kuliahnya. Ya, sekali lagi, aku bersumpah akan berusaha melupakannya. Aku akan pergi jauh dan tidak akan mengusik keluargamu lagi.”</p>
<p>Setelah berkata begitu, aku menuruni anak tangga dan mundur secara perlahan-lahan. Ketika daun pintu rumah itu ditutup, aku baru membalikkan badan. Lalu mengambil sepeda motor dan meninggalkan tempat itu. Sepeda motor yang kutunggangi meluncur cepat di jalanan yang berbatu dan berdebu itu. Aku berusaha membunuh rangkaian kenangan yang pernah tertancapkan di sepanjang jalan itu. Di jalanan yang sebelumnya paling sering kulalui bersama matahariku.</p>
<p>Aku benar-benar tak kuasa mengendalikan kecamuk perasaan yang menyesaki dada. Dalam keterombang-ambingan perasaan itu, aku berusaha bersikap tenang di atas “kuda mesin” yang kutunggangi. Aku tak ingin kecelakaan yang terjadi kemarin terulang kembali. Namun, gemuruh di dadaku tetap saja tak mau berhenti. Hingga akhirnya aku memutuskan tidak berangkat ke Banda Aceh dulu, sebelum bisa menenangkan perasaanku.</p>
<p>Sorenya, sebelum pulang ke rumah ibu, setengah sadar aku mendatangi tepi pantai yang sering kusinggahi bersama Amelia. Duduk menyendiri menghadap ke laut, memandang matahari yang pelan-pelan rebah ke barat. Senja dengan awan dan langit kemerah-merahan, menghadirkan beragam halusinasi di banakku. Aku memandang matahari terbenam itu seperti memandang lukisan Amelia. Semakin lama kian memudar, hingga tenggelam ke kedalaman ujung laut. <strong><em>(Bersambung)</em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/168/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/168/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=168&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/10/lelaki-tanpa-matahari-15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki tanpa Matahari (14)</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/05/lelaki-tanpa-matahari-14/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/05/lelaki-tanpa-matahari-14/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2007 06:57:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY LIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/2007/06/05/lelaki-tanpa-matahari-14/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mataku terkuak, kutemukan tubuhku terbaring di pinggir jalan. Astaghfirullaahal’adziim… Sorot mataku mengitari beberapa siswa calon polisi yang berdiri di sekelilingku. Ya, sepeda motor yang kukendarai ternyata terjatuh persis di depan gedung Sekolah Polisi Negara, di puncak Seulawah, Aceh Besar.
Aku mencoba bangkit. Ada sedikit rasa sakit di bahu sebelah kiri. Kutemukan beberapa goresan luka di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=167&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika mataku terkuak, kutemukan tubuhku terbaring di pinggir jalan. Astaghfirullaahal’adziim… Sorot mataku mengitari beberapa siswa calon polisi yang berdiri di sekelilingku. Ya, sepeda motor yang kukendarai ternyata terjatuh persis di depan gedung Sekolah Polisi Negara, di puncak Seulawah, Aceh Besar.<span id="more-167"></span></p>
<p>Aku mencoba bangkit. Ada sedikit rasa sakit di bahu sebelah kiri. Kutemukan beberapa goresan luka di bagian tubuhku. Sebagian tergores ranting pohon. Sebagian lagi mungkin karena terseret pinggir aspal. Perlahan mulai kurasakan perih di luka-luka itu. Tapi, tetap saja aku memaksa berdiri.</p>
<p>“Abang gak kenapa-kenapa kan?” tanya seorang siswa polisi itu. Sedangkan beberapa temannya kulihat sedang berusaha mengangkat sepeda motorku ke badan jalan.</p>
<p>Aku menggeleng. “Tidak. Hanya luka-luka kecil aja ni.”</p>
<p>Kuperhatikan sepeda motorku. Juga tidak ada kerusakan berarti. Lalu aku mencoba menstarternya kembali. Hidup. Setelah menyampaikan terima kasih dan pamitan pada siswa-siswa polisi itu, aku meneruskan perjalanan.</p>
<p>Kali ini aku lebih hati-hati dalam menunggang “kuda masin” itu. Selain roda depannya memang sudah agak goyang, aku juga tidak ingin mati konyol. Sesaat, kucoba membuang bara yang sedang membakar perasaanku. Aku hanya berharap, cepat tiba di Banda Aceh sehingga bisa menumpahkan segala rasa di tempat tidur.</p>
<p>Sementara matahari sudah condong ke barat. Sepeda motor yang kukendarai terus merangkak. Menuruni bukit Seulawah, hingga kemudian sampai juga ke tempat tujuan. Senja dengan awan dan langit kemerah-merahan, akhirnya mengantarku ke markas baru. Sebuah rumah toko yang tidak sempat terjamah lidah tsunami, saat bencana itu meluluhlantakkan ibukota provinsi ujung barat Sumatera ini.</p>
<p>Dibantu beberapa teman yang sudah beberapa hari lalu tiba di Banda Aceh, aku mengoles betadine salap di tubuhku yang terluka. Perih memang. Tapi, tetap saja tidak ada apa-apanya dibandingkan “tamparan berat” yang kualami siang tadi. Tamparan yang mungkin akan mengakhiri hubunganku dengan Amelia.</p>
<p>Akh, mengingat semua itu semakin membuat perasaanku tak menentu. Berbagai kecamuk perasaan terus menggerogoti jiwaku. Meski malam telah merangkak jauh, aku tetap saja tidak bisa memejamkan mata. Terlebih, ketika di tengah malam pekat itu, sebuah pesan singkat dari Amelia masuk ke HP-ku.</p>
<p>Berita di pesan singkat itu semakin memperlebar jurang perpisahan antara aku dan Amelia. Bagaimana tidak, Amelia mengaku tidak dibolehkan kuliah lagi oleh keluarganya. Dia bahkan mengaku diancam tidak boleh ke luar rumah untuk selamanya.</p>
<p>Aku benar-benar kembali dihadapkan pada kenyataan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Di tengah kegalauan itu, tanpa sadar aku meraih HP dan menekan nomor kontak ibunya Amelia.</p>
<p>“Halo, ada apa tengah-tengah malam begini?” terdengar suara perempuan yang selama ini telah kuanggap seperti ibuku sendiri.</p>
<p>“Bu, biarkan Amelia meneruskan kuliahnya. Dia pasti sangat tersiksa kalau harus berhenti kuliah, bu. Tolong bu, ya&#8230;”</p>
<p>“Tentang Amelia, sekarang bukan urusan kamu lagi. Tolong jangan pernah ganggu kami lagi. Mau meneruskan kuliah atau tidak, itu hak kami selaku orang tuanya. Sudah jelas, kan?”</p>
<p>“Tapi, bu&#8230;”</p>
<p>“Tidak ada tapi-tapi. Udah ya, saya mau istirahat.” Telepon langsung ditutup.</p>
<p>Kemudian malam kurasakan begitu sepi. Aku melangkah ke teras lantai dua markasku yang baru. Kulihat langit hanya diterangi beberapa bintang pucat. Gemericik angin kemarau berusaha menghalau kecemasan di hatiku. Namun, tetap saja sia-sia. Pikiranku terus saja dibelenggu kegelisahan.</p>
<p>Akh, ingin rasanya kuakhiri seluruh keombang-ambingan perasaan yang mendera hati. Membunuh semua keinginan yang pernah singgah selama aku di alam ini. Lalu merajut kembali keinginan itu di alam yang lain. Sungguh, ajalku ingin segara tercabut dari tulang-tulang ringkih, mulut berbusa, dan bereinkarnasi menjadi serigala. Kemudian setiap malam purnama, aku akan melolong sepanjang trotoar atau di depan rumah perempuan-perempuan yang pernah menyambangi hatiku selama di bumi ini.</p>
<p>Tapi, mendadak aku merasakan ada nafas baru yang mengaliri sendi-sendi kerongkonganku. Mengembalikan pikiran jernihku untuk memaknai hidup sebagai sebuah perjuangan. Bahkan seperti ada suara lain yang ke luar dari dalam jiwaku. Suara yang mendesakku untuk tetap berjuang hingga mendapatkan kembali matahariku.</p>
<p>Ya. Pagi nanti aku harus kembali ke Bireuen. Menjemput bidadariku, meski harus merampasnya dari orang-orang yang menentang hubungan kami itu. Aku tak peduli, tekatku hanya satu, takkan menyerah sebelum berhasil menjadikan Amelia sebagai dermaga terakhir dalam petualanganku. Aku ingin menancapkan sauh kapalku di sana. Di hati Amelia, dengan dipayungi ikrar suci selamanya.<strong><em> (Bersambung)</em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/167/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/167/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=167&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2007/06/05/lelaki-tanpa-matahari-14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki tanpa Matahari (13)</title>
		<link>http://ariadi.wordpress.com/2007/05/27/lelaki-tanpa-matahari-13/</link>
		<comments>http://ariadi.wordpress.com/2007/05/27/lelaki-tanpa-matahari-13/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2007 18:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arie</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY LIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariadi.wordpress.com/2007/05/27/lelaki-tanpa-matahari-13/</guid>
		<description><![CDATA[“Gimana? Langsung berangkat?” tanyaku seraya menuntunnya ke sepeda motor.
Amelia mengangguk. Kustarter sepeda motor dan kami tancap gas. Membelakangi matahari yang mulai memancarkan terik yang menyengat tubuh.
“Gak ada yang tau kan adek berangkat ama abang?” teriakku, mengimbangi suara kendaraan yang berseliweran di jalanan yang kami lewati.
“Gak. Moga aja nggak ada yang tau adek jalan lagi ama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=166&subd=ariadi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“Gimana? Langsung berangkat?” tanyaku seraya menuntunnya ke sepeda motor.</p>
<p>Amelia mengangguk. Kustarter sepeda motor dan kami tancap gas. Membelakangi matahari yang mulai memancarkan terik yang menyengat tubuh.<span id="more-166"></span></p>
<p>“Gak ada yang tau kan adek berangkat ama abang?” teriakku, mengimbangi suara kendaraan yang berseliweran di jalanan yang kami lewati.</p>
<p>“Gak. Moga aja nggak ada yang tau adek jalan lagi ama abang,” jawab Amelia, persis di telingaku.</p>
<p>Kemudian, sepanjang jalan kami lebih banyak diam. Semprotan sinar matahari semakin panas. Amelia merebahkan kepalanya ke bahuku.</p>
<p>Tiba di Sare, di atas pegunungan Seulawah, kami berhenti untuk istirahat makan siang dan salat zuhur. Dari warung tempat kami menikmati makan siang, sorot mataku terus memperhatikan keceriaan anak-anak yang sedang naik di punggung gajah. Persis di depan warung, di lapangan seberang jalan.</p>
<p>Tiba-tiba aku merasa cemburu dengan keceriaan mereka. Sebab, meski sedang bersama Amelia, perasaanku sekarang tetap saja diselimuti kegelisahan. Perasaan yang sama mungkin juga dirasakan bidadari di sampingku. Amelia juga lebih banyak diam. Hanya sesekali memperlihatkan senyumannya yang jelas seperti dipaksakan.</p>
<p>Selesai makan siang, jantungku mendadak berdebar kencang. Ketika mengambil tisu untuk menyeka mulut, tanganku gemetar. Sesaat kemudian, puncak ketidaknyamananku dan Amelia benar-benar tiba. Sebuah minibus parkir di depan warung. Di antara beberapa penumpang, seorang perempuan setengah baya yang sangat kami kenal turun dari minibus itu.</p>
<p>Muka Amelia seketika berubah pucat. “Makcik,” gumamnya tersekat. Ya, perempuan itu adiknya ibu Amelia yang memang telah lama menentang hubungan kami. Lebih-lebih setelah mendengar cerita Wati tentang kehidupanku dulu.</p>
<p>Ketika sorot mata perempuan itu tertuju ke arah kami, aku dan Amelia tidak mampu menyembunyikan perasaan takut. Kami saling berpandangan. Kemudian sama-sama menunduk. Sementara perempuan itu terus mendekat.</p>
<p>“Kalian masih saja berhubungan. Anak tidak tahu diri, kayak tidak ada laki-laki lain aja,” ujarnya seraya menyeret tangan Amelia ke luar warung.</p>
<p>Amelia terperanjat. Beberapa kepala di warung itu berpaling ke arah kami. Aku cepat-cepat membayar ke kasir dan langsung mendatangi Makcik yang sedang mendamprat Amelia di samping warung.</p>
<p>“Makcik, tolong mengerti kami. Jangan pisahkan kami&#8230;” ujarku seraya berusaha menantang tatapan matanya.</p>
<p>“Tidak ada urusan ama kamu. Tinggalkan aja kami berdua di sini. Sana kau.”</p>
<p>Sementara Amelia menyandarkan tubuhnya ke dinding warung. Tangisnya pecah dalam diam. Makcik terus saja mendambratnya dengan beribu kalimat kecaman atas kebersamaan kami. Mata orang-orang di sekitar itu menatap heran ke arah kami.</p>
<p>Aku menunduk. Amelia kemudian malah menjongkok. Air matanya mengucur deras. Dia seperti tak berdaya. Hanya isaknya yang mulai terdengar miris.</p>
<p>“Makcik, tolong. Tolong mengerti kami,” ucapku seraya berusaha memegang tangan perempuan itu.</p>
<p>Tapi, dia cepat menepisnya. “Sudah. Sana kamu, mau pigi ke mana kek. Amelia akan ikut denganku kembali ke Bireuen,” tutur Makcik setengah menghardikku.</p>
<p>Aku terpaku. Terlebih saat Amelia diseret Makcik ke dalam mobil. Amelia berusaha meronta. Nafasnya deras kudengar sangat jelas. Namun, helaan tangan Makcik yang keras membuat bidadariku tak berdaya. Ketika Amelia sudah berada di dalam mobil, pintu minibus itu ditutup dengan keras. Beberapa penumpang masuk ke mobil lewat pintu yang lain.</p>
<p>Sorot mata Amelia terus menatapku dengan pandangan kosong. Kurasa ada ribuan kalimat yang ingin disampaikan padaku. Namun bibirnya seperti tak mampu digerakkan. Sementara aku hanya termangu. Bahkan, sama sekali tak menghiraukan puluhan mata yang menatapku dengan pandangan yang sulit kumengerti.</p>
<p>Mesin minibus itu dihidupkan. Hingga mobil yang membawa tubuh matahariku bergerak, aku masih saja berdiri di depan warung dengan jiwa yang melompong. Mataku terus menangkap sorot mata Amelia yang tak lagi memantik asa. Mungkin dia sedang memikirkan tentang keinginan-keinginan kami yang tak mungkin lagi terkabulkah. Tidak perlu lagi hitungan-hitungan statistik tentang rencana hari esok yang telah kami siapkan. Karena, semuanya sudah tak mungkin.</p>
<p>Detik demi detik berkejaran dalam hitungan waktu, detak jantungku pun berdegup tak karuan. Seketika kurasakan ada yang hilang dari dalam diriku. Ya, matahariku telah menjauh. Jauh, dan sulit untuk terjangkau lagi.</p>
<p>Aku menstarter sepeda motor. Masih dalam kecamuk perasaan yang tidak menentu, kularikan kuda masin itu sekencang mungkin. Suaranya meraung, membelah alam pegunungan. Tiba di sebuah turunan yang melengkung, aku terperanjat. Karena, saat itu aku tengah menyelip sebuah mobil. Sebuah Mitsubishi Kuda yang tak memberi peluang bagiku untuk menyelipnya.</p>
<p>Di saat yang bersamaan, dari arah yang berlawanan, muncul sebuah minibus. Karena tidak berhasil melewati mobil yang aku selip, aku membanting setir ke kanan jalan hingga terjerembab ke parit. Minibus dari arah depan lewat. Tapi, tubuhku bersama sepeda motor terpelanting jauh. Lalu menghantam batang pohon. Sesaat kemudian, aku sudah tak ingat apa-apa lagi. <strong><em>(Bersambung)</em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariadi.wordpress.com/166/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariadi.wordpress.com/166/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariadi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariadi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariadi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariadi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariadi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariadi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariadi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariadi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariadi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariadi.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariadi.wordpress.com&blog=854988&post=166&subd=ariadi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariadi.wordpress.com/2007/05/27/lelaki-tanpa-matahari-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de112841fc86ad95d3089a33103c107c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ariadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>