Lelaki Tanpa Matahari (2)

Bulan pertama di Jakarta. Hari-hari paling sulit dalam hidupku. Aku terlunta-lunta dari satu penerbitan ke penerbitan lainnya. Aku harus mencari pekerjaan. Kalau tidak segera mendapatkan pekerjaan, berarti aku tidak makan. Mungkin saja, aku jadi gembel dan harus tidur di emperan toko. Dan, kuliahku tidak mungkin bisa kuteruskan.

Persediaanku ludes. Sementara ibu kost mulai mendesak. Dia minta aku membayar uang kost bulan berikutnya. Jika tidak, pilihanku hanya satu, angkat kaki dari rumahnya. Aku bingung. Pikiranku berputar selama 24 jam. Detik-detik mendebarkan menggerogotiku.

Namun, suatu pagi, kebuntuan itu pupus. Proposalku diterima sebuah penerbitan besar. Aku dipercaya mengelola penerbitan tabloid mingguan anak-anak. Hari-hariku kembali bergelut dengan seabrek naskah. Bukan hanya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi, aku juga punya pekerjaan tambahan. Menjadi konsultan pemasaran pada group penerbitan yang mem-back up tabloidku.

Dari segi kedudukan dan materi, aku mungkin sekelas penulis-penulis senior. Namun, kekosongan jiwa menjadikan langkahku gamang. Aku sulit mengendalikan pikiranku. Selepas menyelesaikan tugas-tugasku di kantor, aku kerap dihantui rasa takut. Perasaan kehilangan menyeret daya khayalku pada sebuah dunia yang tak kumengerti. Aku hanyut di antara kegelisahan yang tak beralasan.

Menghadapi kenyataan itu, aku coba mengusir kegelisahan dengan merambah dunia malam. Meski semu, keceriaan kembali menjadi milikku. Sepanjang malam, kehidupan malam Jakarta menjadi bagian kehidupanku. Gemerlap lampu diskotik dan suara serak penyanyi night club menghiasi jalan pikiranku. Aku puas. Bahkan bangga ketika pantulan matahari menjilat pinggir ranjangku, setelah semalaman bergelimangan dosa.

Meski begitu, kuliahku tetap berlanjut di kota yang paling tidak kusukai itu. Aku memang paling membenci Jakarta. Tapi, di kota ini pula aku harus berjuang. Berusaha mempertahankan sebuah kehidupan dengan menyia-nyiakan kehidupan lain yang pernah kumiliki. Ya, aku harus bisa hidup di luar keagungan cinta yang pernah tergenggam di hati.

Prestasiku semakin menggeliat di kota ini. Aku bisa merambah berbagai aspek pekerjaan. Dari dunia kepenulisan, eintertaiment, hingga kepala bagian pemasaran di sebuah penerbitan besar bisa aku dapatkan. Kehidupanku sudah sejajar selebritis ternama saat itu. Aku tidak lagi tinggal di tempat kost kawasan elite alias kawasan pinggir kali dan sempit, melainkan sudah bisa mengontrak rumah gedongan di kawasan elite benaran. Bahkan, aku lebih sering menginap di kamar-kamar hotel berbintang.

Setelah belasan tahun terlewati. Tsunami yang memporakporandakan Aceh di penghujung tahun 2004 membangunkan aku dari mimpi indah yang menyesatkan. Aku ingin bangkit dari lumpur dosa yang telah lama membenamku. Jalan satu-satunya, ya aku harus kembali ke Aceh. Berusaha menjadi pria baik-baik seperti saat kutinggalkan Aceh dulu.

* * *

Jalan yang kulalui tak terlalu berbeda dengan beberapa belas tahun yang lalu. Masih berbatu, debu kemarau, dan pepohonan sepanjang jalan desa yang layu. Turun dari ojek—di Aceh disebut RBT, isak tangis ibu dan adik-adikku menyambut si anak hilang. Ya, aku mungkin sudah dianggap anak hilang karena selama belasan tahun tidak pernah mengabari mereka tentang keberadaanku.

“Anakku…kemana saja kau selama ini?” jerit ibu sambil memelukku. Seketika tangis ibu tumpah. Aku tak kuasa membendung rasa haru yang melilit di jiwa. Setelah merenggangkan dekapannya, ibuku melirik dua adik perempuanku yang sedari tadi hanya terpaku dengan isak yang menggiris kalbu. Secara bergantian, mereka juga mendekapku erat-erat.

“Sudahlah, abangmu perlu istirahat dulu,” ujar ibu kemudian, setelah mampu menguasai perasaannya.

Ibuku masih seperti dalam ingatanku. Perempuan Aceh yang tegar, seorang ibu sekaligus bapak bagi adik-adikku setelah ditinggal cerai oleh bapak yang menikah dengan wanita lain. Dia tidak banyak berubah. Meski sudah terlalu tua, ketegaran dan keuletan masih terpancar di matanya.

Seusai makan malam, kami duduk di ruang tengah. Pertanyaan ibu dan adik-adik, aku jawab sebisaku. Maksudku, aku tak dapat menjelaskannya secara panjang lebar hingga detil. Bagaimana mungkin, aku sudah belasan tahun meninggalkan mereka, sangat banyak yang terjadi. Dan, begitu banyak lakon yang pernah kujalani, dan tentunya sangat banyak pernik kehidupanku yang tidak mungkin kuceritakan kepada mereka.

Sepanjang malam aku terus berpikir, apa yang harus kulakukan di sini untuk memulai kehidupanku yang baru? Paling tidak, aku harus bisa memiliki pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhanku sendiri. Namun, hingga sebulan berlalu belum juga kutemukan jalan keluarnya. Aku tetap menganggur dan tidak tahu apa yang mesti kulakukan di tanah kelahiranku yang telah kutinggalkan selama separuh usiaku.

Di tengah kegamangan, berbekal sedikit modal dan bantuan beberapa teman yang telah kukenal sebelumnya, aku berhasil menerbitkan sebua tabloid di sebuah kota kecamatan. Sesuatu yang luar biasa memang bagi orang yang belum mengenalku. Sejak itu, hari-hariku mulai dipadati oleh kesibukan karena segalanya harus kukerjakan sendiri. Mulai mencari bahan tulisan, meramu dalam bentuk tulisan yang enak dibaca, mendampingi layouter, hingga mengontrol proses cetak harus kulakukan sendiri.

Tapi, sesibuk apapun, aku tetap saja lelaki malam. Lelaki yang paling membenci saat-saat matahari terbit. Aku bahkan selalu menginginkan perputaran waktu berhenti selamanya di penghujung malam, sehingga tidak pernah tampak matahari terbit.

Keberhasilanku menerbitkan koran di sebuah kota kecil memang mendapatkan banyak pujian dari penguasa daerah yang baru kukenal. Perlahan, aku mulai dikenal banyak orang di tanah kelahiranku sendiri. Dan, aku sangat bangga hal itu, walaupun tidak sebanding ketenaran yang pernah kuraih di beberapa kota besar yang telah kusinggahi.

Mendadak kebanggaan itu lenyap seketika. Umur koranku tidak bertahan lama. Setelah terbit beberapa edisi, terpaksa gulung tikar karena kehabisan dana. Kegagalan itu sempat membuat aku kecewa. Bagaimana tidak, saat di Jakarta aku tidak pernah gagal di bidang usaha meski kehidupan pribadiku berantakan. Tapi di Aceh, aku harus menikmati kehancuran segala-segalanya. Memang, jalan untuk menjadi orang baik-baik sangat sulit kudapat.

Mengisi kekosongan hari-hariku, aku mencoba menjadi penulis lepas. Dan itu kulakukan sambil aku berusaha mencari pemodal untuk menerbitkan koranku kembali. Beruntung, aku kembali dipertemukan dengan teman-teman yang sejalan dengan pikiranku.

Bersama mereka dan kepercayaan beberapa pemilik saham, kami merintis penerbitan koran harian dengan mesin cetak sendiri. Bermula dari peluncuran Situs Berita Pararaja, lalu Harian Pararaja pun lahir di sebuah kota kabupaten. Kesibukan kembali menggerogoti hari-hariku. Apalagi, di samping sebagai redaktur yang memegang beberapa rubrik, aku juga diminta pimpinan redaksi untuk mendidik para wartawan baru. Tapi hari-hari yang begitu padat tetap saja tidak mampu merubah pola hidupku. Aku masih saja lelaki malam yang sangat membenci matahari terbit.

Pernah memang aku tertarik dengan wartawati yang aku didik. Pernah juga kucoba memberi perhatian lebih kepadanya. Tapi, kemudian perasaan itu kubuang jauh-jauh. Dia bukan wanita yang kucari, di matanya tidak pernah kutemukan bias matahariku yang hilang. Hingga koran kami berjalan dan mulai dikenal orang, aku tetap saja lelaki malam. Lelaki yang tidak pernah melihat matahari terbit. Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s