Lelaki Tanpa Matahari (3)

Namun, setelah beberapa episode kehidupan kulalui. Aku mendadak berharap kegelapan malam cepat berlalu. Aku tiba-tiba ingin selamanya menikmati matahari pagi. Selalu terbangun sebelum langit di ufuk timur memuncratkan warna merah jingga. Bahkan, aku rela menunggu berjam-jam sekadar menyaksikan jilatan matahari pagi menerobos ventalasi.

Kehidupanku berubah sembilan puluh derajad. Kegemaranku menunggu matahari terbit mengembalikanku pada kebiasaan masa kecil. Saat aku masih dekat dengan-Nya. Saat aku selalu tepat waktu memenuhi panggilan-Nya. Dan, saat aku begitu takut pada larangan-Nya.

Kuakui, perubahan itu terjadi sejak aku menemukan “bias matahariku” yang hilang. Seberkas sinar matahari yang pernah padam dalam hidupku, membias di matanya. Di mata gadis yang tidak sengaja kujumpai di sebuah rumah kecantikan.

Ya, saat itu aku ingin cuci muka di sebuah salon. Sedangkan dia mengantar kakak sepupunya yang mau menggunting rambut. Entah kenapa, aku merasa telah mengenalnya jauh sebelum kami bertemu. Dia juga mengaku seperti pernah mengenalku. Setelah pertemuan itu, komunikasi kami terus berlanjut. Aku sadar, dia memang bias matahariku yang hilang.

Yang pasti, gadis itu mampu mengembalikan rasa yang pernah lama mati. Lalu, terbersit hasrat di jiwaku untuk menggenggam bias matahariku yang tersirat di matanya.

Namun, di sisi lain keraguan sempat menyelinap di hatiku. Aku sempat berpikir bahwa aku bukan lagi seperti belasan tahun lalu. Mungkinkah “Bias Matahariku” tergapai lagi? Ya, sempat begitu lama kubiarkan rasa itu terurai. Aku berharap, biarlah perjalanan waktu yang mengaturnya. Sebab, aku paham betul pada sepenggal firman-Nya: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)

Apa yang kuinginkan ternyata memang bisa kugapai. Aku berhasil menggenggam cinta Amelia. Cintaku pada gadis belia yang memancarkan bias matahariku dari sorot matanya itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Kepastian itu kuraih di suatu sore, di pertemuanku yang kelima dengan Amelia. Aku mengajaknya menikmati matahari tenggelam di pinggir laut, di belakang rumahnya.

“Adek, kurasa sampai di sini saja kita saling kenal dan bertemu seperti ini,” ujarku pelan, nyaris tak terdengar olehnya.

Kutatap wajahnya dalam-dalam. Aku tahu betul, dia begitu tersentak dengan kata-kataku itu. “Apa salah adek hingga abang berkata begitu?” timpanya seraya balas menatapku.

“Ngak. Bukan adek yang salah. Hanya abang sendiri yang salah karena terlalu banyak berharap dari adek. Ya, abang memang pantas menyalahkan diri sendiri hingga menyebabkan kebersamaan kita harus berakhir di sini.”

“Maksud abang?”

“Abang mencintai adek. Jadi abang rasa itu tidak mungkin adek terima. Jalan satu-satunya, ya kita harus mengakhiri kebersamaan ini,”

Amelia hanya diam saja menatapku. Kulihat wajahnya masih cerah. Meski sedikit bingung, tapi mukanya tidak memerah seperti kebanyakan gadis remaja ketika menerima ucapan cinta seorang pria. Dia bahkan tersenyum ramah, tanpa beban.

“Itu toh masalahnya. Adek sudah lama tahu isyarat itu kok. Tapi …”

“Tapi apa?” sambarku.

Dia terdiam sesaat. Lalu, seraya menatapku dalam-dalam, dari bibirnya yang ranum meluncur kalimat yang sempat membuat tarikan nafasku tak menentu. “Sebelum adek menerima cinta abang, adek ingin tahu apa yang bisa abang janjikan untuk ketegaran cinta abang itu?”

Lama aku balas menatapnya. Kugenggam bahunya erat-erat, “Hanya satu yang bisa abang janjikan. Ya, abang akan merawat cinta ini untuk tetap utuh selamanya.”

“Abang yakin bisa melakukannya?”

Aku mengangguk. Dan, kurasa itu cukup untuk menyakinkannya. Lalu, Amelia menjulurkan tangannya dan menggenggam tanganku erat-erat, “Adek terima cinta abang. Meski sangat sederhana, adek yakin, abang bisa merawat cinta ini…”

Matahari di atas kepala kami sudah terbenam. Larik sinarnya sudah tak bersemangat. Sebentar lagi maghrib menderas. Tapi bagiku, semuanya makin terang. Malah tambah jelas melihat sorot mata Amelia yang berpendar seperti kunang-kunang di malam gelap. Mungkin karena aku begitu mengharapkan balasan cintainya selama ini, sehingga sangat memperhatikan setiap jengkal tubuhnya saat cinta itu telah kugenggam.

Kulihat kulitnya yang tampak semakin putih karena warna langit semakin menghitam. Amelia juga tak henti-hentinya menatap mataku yang berusaha kubuat seteduh mungkin. Sedangkan aku sendiri
memperhatikan setiap detail gerakannya, bahkan aku begitu peduli melihat kerdipan matanya. Aroma tubuhnya yang telah lama menjadi sesuatu yang khusus bagiku, kini semakin melambungkan anganku.

Ya. Sekarang aku semakin memperhatikan setiap sesuatu yang bergayut di tubuh Amelia. Jemari lentiknya yang sedari tadi aku genggam seakan tidak ingin kulepaskan lagi. Lama kami terdiam. Hanya hati kami masing-masing yang merasakan, betapa cinta itu telah menepis semua luka lama yang pernah sama-sama kami rasakan.

Langit telah gelap, kami melangkah ke surau di samping pangkalan pendaratan ikan. Dari puncak surau, mulai terdengar gema azdan maghrib berkumandang. Sembah sujud kami atas keagungan cinta yang dianugerahi-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s