Carut-Marut Hukum di Serambi Gubernur

Mata hari baru saja mendaki di puncak gedung megah milik Pemda Provinsi Nangore Aceh Darussalam. Di selisik daun-daun nyiur yang sengaja ditanam sebagai penghias halaman gedung itu, angin berhembus perlahan. Di sana terlihat seorang gadis cantik sedang menenteng sebuah tas berupa bingkisan berwarna hijau tua. Dari pakaian dinas yang dikenakannya terlihat dia seorang pegawai negeri.

Wanita itu menggamit tas hijaunya di bawah pergelangan tangan. Tiba-tiba dua orang lelaki berpakian serba hitam yang entah dari mana muncul di depan wanita itu. Dua lelaki itu saling kejar dan saling pukul. Semakin lama semakin mendekati pegawai itu.

Setelah berjarak hanya dua langkah dengan si pegawai, salah seorang lelaki itu merampas tas milik pegawai dan membawanya lari. Tentu saja ibu pegawai menjerit sambil mengurut dada. Lelaki yang seorang lagi mengejar temannya yang melarikan tas pegawai. Saling kejar pun terjadi di pekarangan gedung gubernur. Mereka berguling-guling di atas rumput hijau, tanpa memedulikan satpam-satpam yang menhardik mereka.

Dua lelaki itu terus saling kejaran hingga sampai ke depan pelataran gedung gubernur. Di sana banyak orang berkumpul sambil mengusung spanduk dan poster. Semua orang itu melihat ke arah dua lelaki yang saling kejaran.

Tiba-tiba di tempat itu muncul pula seorang berpakian hitam yang lain. Dari pakian yang dikenakannya terlihat dia bagai sosok drakula. Wajahnya putih pucat, ada segores luka di pipi kirinya, dan mata drakula itu hitam lembam menatap semua orang yang ada di bawah atap serambi gedung gubernur.

Tak jauh dari sana, seorang ibu tua terlihat tertatih-tatih mendekati gedung gubernur. Salah seorang lelaki yang berkejaran tadi mendekati ibu tua tersebut dan menyerahkan tas hijau kepada ibu itu. Kelihatannya lelaki itu anak dari ibu tua.

Sesaat tas itu berada di tangan ibu tua, lelaki yang satu lagi merampasnya kembali. Saling kejar antara si lelaki dan anak ibu tua itu pun terjadi. Sekarang mereka berputar-putar di depan pelataran lobi kantor gubernur. Kebetulan lobi itu lebih tinggi dari halaman, jadi mereka kelihatan seperti di atas panggung.

Tengah asyiknya orang-orang melihat dua lelaki dan seorang ibu tua di atas lobi itu, tiba-tiba muncul seorang lelaki lain berpakian hitam pudar. Badan lelaki itu lebih besar dari dua lelaki sebelumnya dan di tangannya tersemat sebilah tali.

Lelaki itu kelihatannya algojo yang sengaja didatangkan ibu pegawai. Terlihat lelaki itu melibas dua lelaki yang saling kejaran tadi. Ibu pegawai tersenyum puas melihat dua lelaki itu dilibas oleh algojonya. Di lain pihak, drakula menjerit. Jeritannya terdengar bangga dan wibawa.

Setelah lima belas menit saling libas, saling tindih, saling banting, dan saling piting di atas lobi serambi gedung gubernur, satu persatu dari mereka meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu suara teriakkan masih menggema di anatar orang-orang yang ada di sana. Lambat laun mereka yang tadi di atas lobi hilang secara spontan. Kini yang terlihat hanya kerumunan orang dan belasan aparat polisi yang berdecak-decak kagum.

Demikianlah pertunjukan teater yang diperagakan beberapa orang mahasiswa dalam mengisi acara aksi damai mahasiswa dan masyarakat peduli Aceh Singkil di depan kantor gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, kemarin pagi.

Aksi yang menuntut gubernur Aceh agar tidak melantik pejabat bupati Aceh Singkil yang bermasalah, itu sengaja mengahdirkan pagelaran teater yang mengisahkan betapa bobroknya pemerintahan di Aceh Singkil dan Indonesia umunya.

Drakula yang diperankan oleh Risma merupakan sosok penguasa tertinggi negeri. Drakula disimbolkan sebagai penguasa yang menhisap milik rakyat. Ibu tua yang diperankan oleh Fira merupakan gambaran sosok peduduk di negeri ini yang hidup melarat. Sedangkan dua lelaki yang saling kejaran, masing-masing diperankan Akmal dan Decky,merupakan dua orang pemuda yang menginginkan kepunyaannya dikembalikan. Bingkisan hijau yang mereka rebut dari ibu pegawai merupakan simbol harta rakyat. Mereka minta harta itu dikembalikan, tapi yang namanya pejabat, memiliki pengawal. Hal ini mereka simbolkan dengan lelaki yang bereran sebagai algojo dalam cerita.

Algojo yang selalu mencambuk penduduk itu diperankan Maulidan. Di sana terlihat, algojo hanya mencambuk rakyat biasa, sedangkan ibu pegawai tidak. Ibu pegawai yang diperankan oleh Kurvah itu malah tersenyum senang melihat semuanya.

“Ini merupakan gambaran hukum yang carut-marut di negeri kita,” ujar salah seorang pemain teater itu. Di harapkan, melalui medium teater tersebut semua menyadari hal ini dan mari kita membangun negeri ini bebas dari segala bentuk penidasan terhadap rakyat.(her)

Iklan

One thought on “Carut-Marut Hukum di Serambi Gubernur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s