Lelaki Tanpa Matahari (6)

Kurasa semburan udara penyejuk ruangan itu dipaskan pada posisi 16 derajad celsius. Namun, butiran keringat kulihat tetap saja mengalir di jidat Raja-01 yang lumayan licin. Ohya, Raja-01 itu panggilan kami untuk pemimpin redaksi. Maklum, Harian Pararaja memang dikelola oleh sejumlah raja dari beragam komunitas berbeda.

“Duduk Ri,” tuturnya seraya berusaha mengumbar senyum yang tampak jelas dipaksakan.

Aku menggeser kursi hingga persis di hadapannya, “ada apa, bang?”

“Gini, kayaknya pihak manajemen tetap memaksa memasukkan orang luar untuk posisi Wapemred. Kita juga tadi udah rapat dengan teman-teman yang hasilnya sepakat menolak keberadaan orang luar di jajaran pimpinan. Gimana menurut kamu?”

“Bagi saya, siapa aja yang jadi pimpinan di sini gak ada masalah. Ya, kalau memang untuk kemajuan perusahaan dan keberhasilan kita bersama apa salahnya? Lagian dia kan bisa membantu tugas-tugas abang, di samping membuat terobosan-terobosan baru guna meningkatkan mutu koran,” paparku.

“Tidak,” nada suranya mulai tinggi, “aku dan teman-teman lain tetap tidak setuju. Aku lebih setuju kau atau salah seorang dari kalian yang jadi Wapemred ketimbang orang baru yang tidak ikut merintis kelahiran koran ini.”

“Yakh, terserah abang dan teman-teman lain aja. Saya tetap mengikuti kebijakan perusahaan. Apalagi kebijakan itu bertujuan meningkatkan kualitas produksi guna memperbesar oplah dan menambah pemasukan iklan,” sebutku seraya bangkit dan meninggalkan ruangannya.

Biarlah aku dianggap tidak kompak, pikirku. Toh, aku memang menginginkan kehadiran orang luar di jajaran redaksi yang bisa membendung kebijakan-kebijakan sepihak Pemred dalam mengendalikan visi dan kepentingan pemberitaan.

Aku kembali ke meja kerja. Kuhempaskan pantatku di kursi yang lumayan empuk. Menyalakan komputer dan bergelut dengan sejumlah berita yang dikirim melalui LAN chat dari komputer para wartawan.

Tepat pukul 11.30 WIB seluruh halaman selesai print out. Tapi mendadak aku dan teman-teman di redaksi mendapat panggilan rapat, sesaat selesai print film untuk naik cetak dilakukan. Padahal saat itu aku sedang menerima telepon dari Amelia.

“Udah dulu dek ya, kami mau rapat mendadak ni. Ntar kalau udah rapat abang telepon balik. Key?”

“Key deh. Adek tunggu.”

Tiba di ruang rapat, kulihat petinggi-petinggi Pararaja sudah memenuhi ruangan itu. Beberapa pemilik saham duduk satu deretan dengan pemimpin umum dan pemimpin perusahaan. Di seberang mereka duduk pemimpin redaksi, redaktur pelaksana dan beberapa redaktur. Sedangkan aku memilih tempat duduk di kursi paling sudut. Boleh jadi, aku menjadi pembatas dua kubu yang bertikai itu. Kalau memang mereka sedang bersiteru.

Benar saja, dua kubu itu memiliki kepentingan yang berbeda. Pihak pemilik saham, pemimpin umum dan pemimpin perusahaan bersikukuh ingin menempatkan tenaga ahli dari Jakarta di posisi wakil pemimpin redaksi. Sementara pihak pemimpin redaksi dan sebagian kecil redaktur, menolak keras kehadiran darah baru itu.

Hingga rapat bubar, tetap saja tidak menemukan jalan penyelesaian. Dua kubu itu sama-sama memberikan harga mati pada keputusan masing-masing. Bahkan, menjelang rapat usai, datang kabar bahwa percetakan mengalami kerusakan, sehingga tidak bisa dilanjutkan proses cetak.

Malam menjadi dingin. Embun membasahkan kulitku ketika meninggalkan kantor. Sesampai di mess, aku langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. Lalu mengeluarkan handphone dari saku celana dan menelpon Amelia.

“Dek, mulai besok Pararaja tidak terbit lagi. Mungkin juga untuk selamanya.”

“Kenapa?”

“Rapat tadi menemui jalan buntu. Bahkan tambah memperuncing masalah yang ujung-ujungnya Pararaja tidak terbit lagi,” tuturku melemah.

“Ya udah. Abang sabar aja, mendingan sekarang kita ngobrol yang lain-lain aja.”

Malam itu rembulan muncul dengan wujud yang tipis dan kering. Kadang tertutup awan dan lama tak terlihat. Aku dan Amelia ngobrol hingga fajar menjelang. Kokok ayam terdengar bersahutan. Suara warga di belakang mess menumbuk padi secara tradisional terdengar seperti musik kitaro membelah langit Kamboja dalam film-film hollywood picisan. Aku kemudian diam menatap ke luar jendela. Matahari bersinar.

Bakda ashar, aku menjemput Amelia di rumahnya. Kami menelusuri jalan-jalan kampung sambil mencari objek foto yang menarik. Sementara langit di atas kepala mulai ditutupi awan hitam yang berarak.

Setelah beberapa desa terlewati, magrib menderas. Kami memenuhi panggilanNya di sebuah sarau, di pinggir bukit desa pedalaman. Menjelang salam terakhir, rinai hujan terdengar menyentuh atap rumbia sarau. Semakin lama, kian deras. Lalu titik-titik air hujan itu seperti ditumpahkan dari langit.

Amelia menanggalkan mukena yang membungkus tubuhnya. Udara hujan yang dingin membuat bibir bidadariku bergetar. Disinari pencahayaan lampu neon 25 watt di balai-balai surau, wajah Amelia nampak menggigil kedinginan. Sementara dua lelaki setengah baya yang juga mampir salat magrib di surau itu sudah berlalu membelah deras hujan. Suara raungan sepeda motor mereka mengimbangi deru hujan.

Sesaat kemudian kembali sepi. Malam terus merangkak. Dan, hujan belum juga berhenti. Di surau tua itu hanya tinggal aku dan Amelia. Menanti hujan reda, sambil berusaha mengusir dingin yang menusuk tulang. (Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s