Lelaki Tanpa Matahari (8)

Karena ada Amelia di kamarku, seusai mandi aku langsung menggantikan pakaian di kamar mandi. Begitu kembali ke kamar, kutemukan wajah bidadariku tidak seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya, dia selalu membersihkan kamar tidurku sambil menunggu aku selesai mandi dan mengganti pakaian.

Tapi, kali ini tidak dia lakukan. Amelia hanya terpaku di bibir ranjang dengan mendekap ujung-ujung lutut di bawah batang lehernya. Kulingkari tanganku di bahunya dan kutengadahkan wajahnya ke mukaku. Tiba-tiba mata Amelia berkaca-kaca. “Kita sedang didera masalah, bang…,” gumamnya pelan.

“Kita? Memangnya ada apa, masalah apa?”

Amelia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan sorot mata yang sulit kumengerti. Dengan air mata yang berlinangan di pipi, Amelia larut dalam tangis yang tak bersuara. Dan, linangan itu semakin menderas ketika aku merapatkan kepalanya ke dadaku.

Kubiarkan isaknya berlalu dalam diamku. Namun, dari batinku terus meluncur ribuan kalimat. Matahariku, aku tidak ingin melihatmu terisak seperti ini. Aku ingin melihatmu selalu tersenyum, aku ingin mendengarmu tertawa. Tersenyumlah bidadariku, tertawalah bersamaku, bercandalah denganku, karena semua masalah akan kita selesaikan bersama.

“Bang…” panggilnya setelah sekian lama terisak di dadaku.

“Hmmm? Ada apa sebenarnya?”

“Tadi malam kakak adek datang dari Malaysia. Begitu lihat foto abang di hp adek, kak Wati langsung terperanjat…”

“Wati?”

“Ya. Ternyata kak Wati tahu banyak tentang masa lalu abang. Dia ceritain semua sisi gelap kehidupan abang ke adek, juga didengar ama ibu dan bapak…”

Hah! Dan, kali ini aku yang tersentak. Oh, matahariku, ternyata kamu adiknya Wati. Ya, aku kenal memang. Kakakmu pernah lama tinggal satu bilik dengan adik perempuanku di Ipoh, Malaysia. Adikku memang sangat kesal melihat kelakuanku saat dia nyamperin aku di Jakarta. Kemudian diceritakan semua tentang kehidupanku kepada Wati, setibanya di Ipoh.

Bahkan, empat tahun lalu aku berkunjung ke Malaysia dan singgah di rumah mereka. Ya, aku ingat sekarang, saat itu Wati nyaris “terhipnotis” oleh gombalku kalau tidak cepat-cepat dicegah adikku.

“Abang kenal kan ama kak Wati?” tanya Amelia setelah lama memperhatikan kelinglunganku.

Aku hanya mengangguk. Mendadak kutemukan diriku dalam keadaan gelisah. Kuhela nafas dalam-dalam sambil kutelan liurku yang terasa pahit. Namun, sesaat kemudian aku berusaha menenangkan diri. Setenang mungkin.

Kulingkari lagi dua tanganku di bahu Amelia. Pandangan kami beradu. Sorot mataku kubuat begitu teduh, “jadi, yang menjadi masalah sekarang apa, sayang?”

“Mereka meminta adek menjauhi abang….” suara Amelia tersekat serak, “dan memaksa adek untuk segera mengakhiri hubungan di antara kita.”

Aku tetap diam, hanya mempermainkan anak-anak rambutnya yang ke luar di ujung jilbab. Setelah Amelia benar-benar tenang, aku mengangkat wajahnya hingga hidung kami beradu. “Adek, terima aja permintaan mereka. Lagian Adek kan udah mau balik ke Banda. Dalam Minggu ini abang juga udah berkantor di sana, kok…”

“Jadi kita bermain di belakang layar, begitu maunya abang?” potong Amelia seraya mendorong tubuhku hingga mundur beberapa langkah.

“Bukan begitu, sayang. Sambil jalan, abang kan berusaha meyakinkan keluarga adek bahwa abang bukanlah Arie yang Wati kenal empat tahun lalu,” tuturku dengan pandangan tak lepas dari sorot mata matahariku, “Ya, dek. Abang kan tunjukkan pada mereka, abang sekarang benar-benar sudah manjadi orang baik-baik.”

“Abang yakin bisa membuat mereka mengerti?”

“Insya Allah. Kalau kita masih sepakat menjalin kebersamaan ini, abang rasa nggak ada yang tak mungkin. Percayalah sayang, kelembutan dan ketegaran sama-sama mampu menjadi sumber kekuatan.”

Kulihat Amelia kembali tersungging. Sepasang bibir indah bergerak pelan, merangkai sebuah senyuman yang mampu menenangkan aku dari beragam kenistaan masa lalu.

Namun, di belahan hatiku yang lain, masih terbersit keraguan. Mungkinkah aku mampu menggabungkan sepasang kekuatan dalam petualanganku menuju persinggahan terakhir? Maukah keluarga Amelia menerimaku lagi? Akh, pertanyaan itu terus mengganggu alam sadarku. Hingga ke kegalauan yang semakin sulit kupahami. (Bersambung)

Iklan

3 thoughts on “Lelaki Tanpa Matahari (8)

  1. juliach

    Susahnya menikah di Indonesia…penuh tangisan…hik…hik..hik…ikutan sedih nih…

    Semoga Amelia bisa mengambil keputusan sendiri tanpa dipengaruhi ibu/bapak/kakak/adik/tetangga/teman/…

    Semoga kalian berdua tetap rukun & langgeng terus.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s