Moral Kita, Kiamat!

Kita saat ini tengah dilanda degradasi moral. Akibat agama kini hanya dijadikan simbol. Rasa bersalah dan malu telah dikalahkan oleh “kenikmatan” dunia, berupa materi, jabatan dengan segala kemewahannya.

Lihat saja penyelewengan terjadi di mana mana, tanpa merasa bersalah, tanpa malu. Kemarin di Aceh, Mantan Ketua Bappeda Agara diduga “sikat” setoran pajak negara, Dinas Perikanan Pidie dituding “tilep” dana rehab tambak, oknum anggota BRDA “sunat” bantuan korban konflik. Berbagai istilah serupa, yang maknanya “merampok” uang negara, yang notabene uang rakyat, terjadi di mana mana. Hampir tidak ada lagi manusia yang tahan terhadap godaan uang, godaan kemewahan dunia, di zaman “kapitalisme” ini.

Bukan hanya kemarin, budaya “tilep” telah terjadi sejak lama, di segala strata, bahkan terkadang dengan paksaan secara terbuka. Di tingkat rakyat disebut perampok, di tingkat pimpinan disebut koruptor. “Negeri kita seperti negeri preman, pajak preman dan rampok di mana mana,” ujar seorang pengusaha yang kesal akibat birokrasi dan pajak reman di mana mana, sebelum reformasi dahulu. Tapi apakah kini ada perubahan? Banyak orang mengaku zaman kini justru lebih “gila” dan canggih lagi.

Korupsi, budaya “tilep” dan sunat hingga “pajak reman”, bermula dari anak yang lahir dari sebuah keluarga, besar dalam sebuah komunitas dan bangsa. Bangsa bagaimanakah kita saat ini? Bangsa yang hampir kiamat secara moralitas! Rasa kemanusiaan tidak meningkat dari zaman ke zaman, budaya malu yang terus ter-erosi oleh “kemajuan” dan eforia zaman yang serba “matre”.

Seorang pemimpin umat yang berbicara keras soal moralitas, tapi kalah ketika tawaran jabatan, atau bahkan rela menggunakan berbagai cara, untuk menunjang “kemapanan” kehidupan keluarganya. Di “era tsunami” lalu, seorang seperti itu, yang punya gaji dengan berbagai tunjangan, tanpa malu mengambil jatah hidup, karena rumah dinasnya tersiram ujung tsunami. Berpegang pada kepemimpinan atau entah kehormatan pula, berbagai “tunjangan” BRR pun dengan gampang didapat para tokoh itu? Apa beda dengan “rampok”?

Dosen atau PNS mengambil gaji buta. Kades atau tokoh desa mengambil bantuan rumah ganda, dengan alasan tidak tahu aturan yang ada. Secara moral, benarkah itu? Apa beda semuanya dengan korupsi? Mengambil hak orang lain (rakyat) untuk mensejahterakan diri sendiri. Tanpa merasa bersalah, tanpa malu, pura pura bodoh, kurang berperasaan selaku manusia, itulah “wajah bopeng” kita saat ini. Wajah yang kita sembunyikan dalam berbagai simbol masa lalu hingga simbol agama. Tidak ada yang berani menghukum dengan tegas, karena kita semua telah terlibat di dalamnya. Bila hukum benar tegak, 90 persen penduduk Indonesia harus masuk penjara. Nanti kita bisa disebut “penjara” terbesar di dunia.

Maka teruslah terjadi, yang sejahtera bertambah “sejahtera”, yang terpuruk semakin bhuek. Budaya malu terus luntur, tipu menipu dan kemunafikan merajalela. Keadilan dan moralitas telah kiamat!

Kita masih melihat ada rakyat yang memeras keringat, membajak sawah atau mengusahakan kebun, harus membayar pajak atau menjadi tumbal untuk “mensejahterakan” hidup seorang pemimpin. Adilkah itu? Sementara di saat susah seperti tsunami, para pemimpin itu justru “melarikan diri”, beristirahat dengan enak di Medan atau Pulau Jawa? Sungguh tidak bermalu, tidak tahu diri dan kurang berakhlak ketika mereka kembali seperti pahlawan, dan meminta hak lebih dari rakyat yang terkorban. Bila pemimpin sudah tidak berakhlak, maka bagaimana rakyatnya? Inilah zaman yang sedang kita arungi, saat ini…

Kapan tingkat kemanusiaan dan moralitas kita membaik? Mungkin bila muncul pemimpin dengan tauladan, menyatakan benar hal yang benar, dan menghukum dengan berat siapa yang berbuat salah. Siapapun dia! Bila moralitas, budaya malu dan harga diri tetap tidak terangkat, berarti kita memang benar benar telah “kiamat”. Kiamat moral dan kiamat (rasa) kemanusiaan. Mungkin, kiamat memang sudah dekat.(*)

Iklan

One thought on “Moral Kita, Kiamat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s