Duh, Teganya (Pejabat) BRR

Setelah biaya komunikasi (yang biasa biasa saja), kini giliran angka perjalanan dinas di kantor Pusat BRR Aceh-Nias di Banda Aceh yang menelorkan angka mencengangkan. Selama delapan bulan, BRR menghabiskan Rp11,5 M untuk perjalanan dinas, termasuk carter pesawat komersial.

Sejak awal BRR (bersama orang orangnya) memang mencengangkan, ya besar dana yang dikelola, ya gajinya. Termasuk agak mencengangkan jawaban jubir BRR yang menyebut biaya itu sesuai tugas BRR yang “cukup berat” di lapangan, sama seperti jawaban terhadap biaya komunikasi.

Apa tugas BRR yang amat berat, membangun rumah?Membuat seminar, konvensi?Membangun fasilitas jalan?Atau berat membagi bagi duit yang segitu banyak?! Kita tidak tahu mengapa Kepala Bapel BRR Kuntoro bisa “terlibat” sejauh ini, hingga nyaris melupakan nurani asalnya. Apa sebegitu beratnya tipu dan kepalsuan yang dilihat, sehingga terjerembat atau bahkan ikut berpura pura dengan kondisi yang ada. Atau tidak bisa lepas sejak awal hingga akhir oleh “tekanan” lingkungan, tekanan kepentingan, hingga kompromi politik? Entahlah. Semoga tidak karena kurangnya rasa malu, kepekaan dan rasa tanggung jawab saja.

Ke mana perjalanan dinas dilakukan?Kata berita, ke Takengon, ke Lhokseumawe, ke Medan, atau bahkan ke Jakarta? Sementara “perjalanan dinas” ke pusat bencana tsunami seperti Alu Naga boleh diwakilkan staf kecil, sehingga digebuk masyarakat yang kesal dengan kesewenangan dan sikap acuh BRR?

Apa bedanya dengan pengelola proyek masa lalu? Semua proyek gampang menggerus uang, pembangunan rumah, riol, overlay jalan hot mix. Betapa mudahnya mencairkan puluhan miliar dana, dengan administrasi yang amat lengkap dan sempurna. Rakyat “dipuaskan” oleh overlay jalan raya puluhan senti tebalnya, di suatu ruas, tanpa pernah melihat pemilik atau pengawas proyek, apalagi petugas BRR. Pekerja juga mengaku mendapatkan dari tangan ke tiga, ke empat, namun jelas itu proyek BRR.

Kurang orang? Wahai… proyek itu masih di kota Banda Aceh, yang tidak perlu perjalanan dinas. Mengapa kalau ke Jakarta tidak pernah kurang orang? Kita berharap, yang berat berat mereka tidak melengos atau melepaskan tanggungjawab pada Satker. Karena sesuai jawaban: Banyak proyek yang harus diawasi. Mana orang (BRR)-nya? Apa untuk mengawasi kawasan tsunami di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya hingga Aceh Barat sampai miliaran rupiah menghabiskan biaya perjalanan dinas setiap bulan? Bila alasan koordinasi ke Jakarta juga kurang bisa diterima, karena kinerja itu mirip pejabat masa lalu, yang digaji rendah oleh negara. BRR mestinya tidak seperti itu lagi. Toh biaya komunikasi juga besar bukan?

Entahlah (warga) Olele, Alu Naga hingga Aceh Jaya mungkin telah membuat kecewa Kuntoro. Sejak awal, semangat “kantor Olele” yang bersahaja dan penuh idealisme, seolah musnah ditelan waktu. Atau, sejak awal ini hanya sebuah ke pura puraan saja? Duh, teganya Anda pak, menganggap semua sudah kenyang dan tutup mulut.

Menganggap semua rakus dan terlibat dalam “foya foya” berjamaah harta sumbangan warga dunia ini? Sayangnya tidak. Kita masih temukan ada yang teraniaya, ada yang terlupakan akibat kurang bertanggungjawabnya pengelolaan dana tsunami ini. Anda telah profesional dalam mendapatkan gaji dan mengeluarkan uang. Namun tidak ada yang berubah dari sikap, tanggungjawab dan idealisme atas sebuah pekerjaan mulia yang seharusnya menarik simpati ini.

Kita melihat, semua masih bergaya lama, palsu dan tidak membawa perubahan apapun. Tidak bagi sistem mengelola dana, jauh dari semangat pembaruan dan profesionalisme, mengkhianati idealisme sehingga runtuhnya kepercayaan rakyat. Walau Anda “orang orang baru” yang konon penuh idealisme. Mungkin ini biasa bagi Anda, khususnya pejabat BRR yang merasa telah “berbuat banyak”. Berbuat banyak dengan berfoya foya, bukan ke Olele atau Alue Naga, tapi perjalanan dinas yang mestinya lebih menarik dilintasi, tanpa harus mendengar keluh kesah korban tsunami melulu. Duh, teganya!(*)

Iklan

One thought on “Duh, Teganya (Pejabat) BRR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s