Senjata Ilegal

Senjata api, dalam sebuah negara hanya boleh disandang aparat keamanan, khususnya tentara dan polisi. Itu pun masih dalam seleksi (internal) yang—mestinya—ketat. Ada kalangan sipil yang diberi izin menyimpan senjata, dengan kriteria dan syarat tertentu yang amat ketat. Negara, melalui aparat kepolisian pula yang menentukan.

Namun negara dalam suasana perang, atau pemberontakan, tentu sulit mengatur penggunaan senjata. Karena “kelegalan” negara tercemar oleh aksi penentangan, maka status legal senjata tidak bisa ditentukan oleh satu pihak. Para penentang sebuah negara, merasa amat legal memiliki senjata bagi perjuangannya membentuk sebuah komunitas, bahkan kalau mungkin negara baru.

Di Aceh, setidaknya hingga saat ini sejak 15 Agustus 2005, penentangan seperti itu, oleh Gerakan Aceh Merdeka berakhir sudah. Tercapainya kesepakatan damai melalui MoU Helsinki membuat negara kembali memiliki wibawa, dan diatur bersama secara adil dan bijaksana. Hukum negara kembali bisa ditegakkan secara tegas, adil dan benar. Benarkah? Itu masih sebuah pertanyaan lain dari kita.

Namun setidaknya saat ini, para pengatur negara, pengatur pemerintahan telah menentukan sikap bahwa senjata yang tidak dimiliki oleh aparatur negara yang sah disebut senjata ilegal. Karena para pihak sudah menyatakan bersatu membela negara yang sama, membela dan membangun daerah yang sama.

Kekacauan akibat masih beredarnya “senjata ilegal” di lapangan bisa membuat wibawa pemerintah goyah. Masyarakat resah. Hukum rimba meruyak di mana mana. Oleh karenanya, wajar saja pemerintah lalu mengeluarkan maklumat, agar pemilik senjata ilegal menyerahkan “sandangan”nya itu secara ikhlas.

“Sandangan” yang selama ini bisa digunakan untuk membela diri, membanggakan diri hingga memperkaya diri. Terlepas dari efektifitas maklumat itu, kita berharap sejak semula senjata senjata “ilegal” itu diganti cangkul. Mungkin memang berat bagi mereka yang telah terbiasa dengan senjata. Seperti beratnya mereka yang legal membanggakan senjata mereka, bahkan kadang bisa membuat rakyat juga takut padanya.

Karena itu pemerintah, juga wajib memberi maklumat pada aparaturnya, baik sipil maupun aparat keamanan, agar menggunakan “senjata” mereka semata mata untuk menjaga rakyat, untuk wibawa negara dan tegaknya hukum, bukan sebaliknya. Para PNS bersenjatakan kekuasaan pelayanan jangan arogan dan harus menjaga wibawa dengan bersikap adil kepada seluruh lapisan rakyat dalam melayani mereka. Wartawan tidak arogan dengan senjata penanya, rendah hati dan bersikap adil dan jujur dalam setiap pemberitaannya.

Aparatur hukum, jaksa polisi dan hakim bersikap adil dalam melayani hingga menjerat sebuah vonis hukuman bagi seluruh warga negara tanpa pilih kasih apalagi bisa disuap. Tentara menjaga wibawa negara dengan senjatanya, tidak boleh menggunakan senjata untuk menakuti orang lain, apalagi rakyatnya sendiri. Semua kekuatan penopang negara tidak boleh menekan dan arogan terhadap rakyat, agar tidak ada alasan para pengguna senjata ilegal membanggakan senjatanya untuk “kebenaran” versinya sendiri (yang belum tentu salah bila aparatur negara arogan, tidak menegakkan hukum dan bersikap adil dalam segala hal).

Kita berharap semua ini akan tercapai, sesuai semakin majunya proses analisa pikir dan wawasan para pemimpin hingga rakyat negeri ini. Kita harap semua lapisan dan elemen menampilkan profesionalismenya dalam mengelola administrasi negara, menjaga negara, mengisi pembangunan sebuah negara. Hukum sebagai tiang utama penopang negara harus benar benar ditegakkan secara jujur, adil, dan tegas kepada semua lapisan. Jangan ada tekanan dan kepura puraan, bila tidak ingin orang selemah ulat sekalipun bisa menggunakan dayanya untuk melawan, suatu saat.

Pengalaman amat berarti di Aceh ketika legalitas negara terganggu hendaknya tidak terulang lagi. Kita setuju sikap tegas bila maklumat pengumpulan senjata ilegal ini tidak dipenuhi mereka mereka yang bandel. Kita juga berharap, mereka mereka yang legal sekaligus bandel dalam sistem negara juga ditindak secara adil. Mereka yang arogan, yang menindas, yang menggerogoti negara dengan rakus harus dijatuhi hukuman setimpal, tidak sekedar diberi maklumat lagi.

Kita tidak mau melihat ketidakadilan baru, ketika mereka yang bandel karena kesalahan masa lalu—ketidakadilan dan kesetaraan kedudukan serta pemberian kesempatan pendidikan sebagai rakyat negara—aditindak dengan keras, sementara mereka yang bandel dalam sistem tanpa malu malu tidak diberi sanksi apa apa.

Ini memang butuh kekuatan, misalnya moralitas pemimpin yang kuat, hingga pemimpin yang bisa dipanut, bijak dan adil. Berbuat sesuatu sesuai perkataan, dan tidak menekan, arogan, atau bersikap penuh kepura-puraan pada rakyatnya sendiri. Kini kita hidup bukan di zaman serba tertutup dan penuh kebodohan. Mari kita bangun bersama negeri ini dengan penegakan hukum yang adil, kejujuran, ketegasan, kedisiplinan dan etos kerja tinggi.(*)

Iklan

2 thoughts on “Senjata Ilegal

  1. Willy Ediyanto

    Saya senang dengan cerita perjuangan rakyat Aceh. Konflik yang lalu saya pahami sebagai kelalaian Jakarta/Jawa seperti kelalaian mengelola Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusatenggara, dan Papua.
    Saya menyambut baik lagi ketika di televisi diberitakan mengenai pemberdayaan masyarakat petani ganja untuk menggantinya menjadi perkebunan buah-buahan.
    Tentu ini lebih positif. Saya yakin petani ganja pun tidak sekaya petani padi, peladang, atau petani yanglain. Walaupun harga ganja tinggi, kemahalan itu karena kegiatan ini ilegal. Hukumlah yang menyebabkannya menjadi mahal. Saya kira mudaratnya lebih banyak buat masyarakat Aceh, petaninya, ataupun masyarakat yang lain yang jadi pemakai. Kalaupun ganja jadi semacam rmpah-rempah, atau obat kuat, misalnya, penyimpangan pemakai dan dampaknya lebih banyak negatif.
    Saya seorang nasionalis yang merasa bangga dengan keberanian orang Aceh.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s