Arsip Penulis: Arie

Tentang Arie

Aku mulai menulis sejak di SMP. Saat di STIK’P Medan, aku bekerja di Waspada Group sebagai Redaktur Maj. Dunia Wanita dan menglola KMD/KMS. Karirku di dunia kewartawanan terus berkembang. Aku mengembara di beberapa penerbitan di Jakarta. Bersama beberapa teman, aku pernah menerbitkan Tabloid Prestasi. Namun, terpaksa bubar karena persaingan bisnis. Padahal, tiras terbit taboidku sudah mencapai 20.000 eks. Lalu aku bekerja sebagai Ka. Cab. Penerbit Ghalia Indonesia Group di Medan. Pascatsunami, aku menerbitkan Taboid Swara Sikula di Bireuen, NAD. Tapi kembali bubar karena keterbatasan basic cost. Aku kembali menjadi penulis freelance. Namun tekadku untuk membangun koran baru di Aceh terus menggelora. Syukur, ada beberapa pemilik modal yang bersedia mewujudkan impianku. Lalu, bersama teman-teman aku membidani kelahiran Harian Rajapost. Lagi-lagi impianku terhempas, sang raja cepat turun tahta. Kenyataan itu memaksaku berjuang lagi. Sebab, masih ada kawan yang ingin membangun koran idealis di Aceh. Dan, aku terlibat di dalamnya. Ya, aku sedang membangun dan membesarkan Harian Aceh!

Tetesan Rupiah di Ujung Purih

Bulir-bulir embun masih lengket di dedaunan. Di ufuk timur, matahari baru saja memancarkan sinar keputihan ketika langkah Abdul Djalil berkelebat lincah di jalan setapak. Sesekali, warga Gampong Alue Peuno, Kecamatan Peusangan itu, menyibak ilalang yang menghalangi langkahnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Teror Aceh

Di Lhokseumawe dan Langsa, kantor Partai Aceh (PA) dibakar. Cara dan waktu pembakaran nyaris sama, baik terhadap kantor Dewan Pimpinan Gampong (DPG) PA di Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, maupun kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PA Langsa Timur. Baca lebih lanjut

Senjata Ilegal

Senjata api, dalam sebuah negara hanya boleh disandang aparat keamanan, khususnya tentara dan polisi. Itu pun masih dalam seleksi (internal) yang—mestinya—ketat. Ada kalangan sipil yang diberi izin menyimpan senjata, dengan kriteria dan syarat tertentu yang amat ketat. Negara, melalui aparat kepolisian pula yang menentukan. Baca lebih lanjut

Lelaki tanpa Matahari (Tamat)

Sejak itu, aku berusaha melupakan Amelia. Tapi, cinta yang pernah kudapatkan darinya telah membuatku hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuat aku selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi bumerang, membelenggu proses kreativitasku dan membuat kualitas diriku mandul. Cinta yang membuat aku lupa bahwa aku masih punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan diri. Baca lebih lanjut